Headlines News:

    Sejarah Singkat Kehidupan Barack Obama


    Barack Obama lahir pada tanggal 4 agustus 1961 di Honolulu, Hawai. Saat ini tinggal di Chicago, Illinois. Ia bertemu Michelle di tahun 1988 dan menikahinya di bulan Oktober, tahun 1992 dan memiliki dua orang putri yaitu Malia (lahir 1998) dan Sasha (lahir 2001).

    Ayahnya bernama Barak Obama, Sr dari Kenya dan ibunya bernama Ann Dunham dari Kansas. Mereka bercerai ketika Obama berusia 2 tahun. Sang ayah menuju Harvard mengejar study ph. D. lalu kembali ke Kenya. Sang ibu menikah dengan Lolo Soetoro dari Indonesia.


    Sejarah Singkat Kehidupan Barack Obama
    Pada tahun 1967, keluarganya pindah ke Jakarta dan Obama bersekolah di Jakarta dengan bahasa pengantar yaitu bahasa Indonesia. Usia 10 tahun ia kembali ke Hawaii tinggal dengan kakek neneknya dari ibunya, Madelyn dan Staney Dunham.

    Setelah SMA, Obama kuliah di Occidental College di Los Angeles selama 2 tahun. Lalu ia pindah ke Columbia University di New York, lulus pada tahun 1983, jurusan political science.

    Setelah bekerja di Business International Corporation dan NYPIRG, Obama pindah ke Chicago pada tahun 1985. Obama memasuki Harvard Law School pada tahun 1988. Pada bulan February 1990, ia terpilih sebagai editor pertama African–American dari the Harvard Law Review. Obama lulus magna cum laude pada tahun 1991.

    Setelah kuliah hukum, Obama kembali ke Chicago sebagai pengacara, bergabung dengan firma Miner, Barnhill & Galland. Ia juga mengajar di University of Chicago Law School. Dan membantu pemilihan selama kampanye presiden bill Clinton pada tahun 1992.

    Obama menerbitkan sebuah otobiography pada tahun 1995: Dreams From My Father: A Story of Race and Inheritance. Dan ia memenangkan sebuah Grammy untuk the audio version of the book. Pekerjaan advokasi Obama membawanya ke Senat Negara Illinois sebagai seorang demokrat. Ia dipilih pada tahun 1996.

    Buku keduanya, The Audacity of Hope: Thoughts on Reclaiming the American Dream, diterbitkan pada bulan Oktober 2006.

    Mengungkap Rahasia Keluarga Obama

    ETIKA Barack Hussein Obama, dambaan presiden baru AS, diterpa tudingan bahwa ia pernah mengikuti pendidikan di sebuah madrasah (sekolah) radikal di Indonesia semasih remaja, tuntutan itu menyebar seperti virus menerjang media dan internet.

    Itu merupakan suatu kebohongan – madrasah tersebut sebetulnya lebih religius ketimbang sekolah-sekolah gereja di Inggris – tapi itu juga suatu sinyal bahwa kesempatan Obama memenangkan kursi presiden tergantung pada kisah kehidupan pribadi dan karakternya, demikian The Australian melaporkan.

    Pertarungan sedang berlangsung hangat, namun hanya sidikit orang yang tahu tentang senator dari Illinois ini, dan The Sunday Time dapat mengungkap warisan keahidupannya jauh lebih beragam dan mencengangkan daripada apa yang telah diketahui pemilih AS.

    Obama, 45 tahun, memiliki dua saudara tiri perempuan, salah satunya bermukim di Inggris, dan lima saudara tiri laki-laki, yang sulung memeluk Islam, dan tak pelak lagi kisahnya kemudian merebak di seluruh dunia.

    Tak seorangpun lebih heran mendengar bahwa Obama dilaporkan pernah mengikuti pendidikan di madrasah daripada apa yang telah dirasakan Julia Suryakusuma, seorang teman baik ibundanya hingga ia (ibunya) meninggal akibat kanker ovaria pada 1995.

    Suryakusuma, 53 tahun, salah satu penulis wanita Indonesia yang vokal tentang masalah kewanitaan, secara tak gentar melakukan penerbitan tentang tokoh-tokoh Muslim garis keras.

    Pekan lalu, Suryakusuma menggambarkan Ann Dunham, ibu Obama, sebagai “seorang liberal dan humanis”, seorang yang giat mempelajari dan berbicara bahasa Indonesia dengan fasih dan menghormati budayanya.

    “Ia (ibu Obama) adalah seorang yang sangat menjunjung tinggi berbagai agama, tapi ia sendiri tidak memeluk salah satunya. Ia adalah pemikir yang amat bebas,” demikian Suryakusuma, sembari menambahkan, “Ia seorang pioner dan ketika datang ke Indonesia, ia cukup terpikat dan terpesona dengan budayanya.

    Di atas meja kopi di rumahnya yang asri dan modern di Jakarta, penuh dengan hasil kerajinan tangan Indonesia yang selalu memikat temanya, terhampar album foto yang menyimpan kenangan manis.

    Itulah Dunham, seorang berwajah agak kepucat-pucatan dan berambut keriting yang merayakan bersama teman-temannya pada pembukaan galeri atau acara minum-minum, dengan memakai pakaian longgar yang sering disukai bohemia wanita Barat di Asia. Senyum di bibirnya selalu merekah.

    “Kau tahu, Ann benar-benar berkulit putih,” ujar Suryakusuma sembari melirik foto-foto di album itu, “kendati ia pernah bilang sama saya bahwa ia mewarisi darah Cherokee. Saya pikir, ia mencintai orang-orang kulit berwarna, berkulit coklat.”

    Dunham berasal dari Wichita, Kansas, tapi kedua orang tuanya berpindah ke Hawaii untuk mencari kehidupan yang belih menjanjikan.

    Menurut Obama, nenek moyangnya memang “seutuhnya berdarah Cherokee.”

    Dunham pertama mengawini seorang mahasiswa Kenya, juga disapa Barack Obama, tapi ia (Barack) kemudian meninggalkan orang tuanya dan kuliah di Harvard dan kembali ke Afrika.

    Ia kemudian dinikahi Lolo Soetoro, seorang mahasiswa asing lainnya, dan berpindah ke Indonesia bersama Barack, putranya yang berusia enam tahun pada 1967, setelah Soeharto menjadi presiden baru Indonesia.

    Soetoro kemudian menjadi konsultan relasi antara Pemerintah Indonesia dan perusahaan minyak raksasa AS.

    “Dia berubah ketika kembali datang ke Indonesia,” ujar Suryakusuma. “Orang laki-laki memiliki pendirian teguh ketika berada di Barat, dan di saat mereka kembali ke negara asalnya, mereka pun hanyut dalam budayanya.”

    Dalam memoarnya, “Dreams from My Father”, yang diterbitkan pertama kali pada 1995, Obama tidak menyembunyikan kerenggangan hubungan antara ibunya dan ayah tirinya, Soetoro, yang membuat kompromi dengan elit pejabat Indonesia.

    Mereka bercerai dan ia (Soetoro) meninggal beberapa tahun sesudahnya akibat penyakit liver.

    Dalam usia 10 tahun, Obama kembali ke Hawaii, dan tinggal bersama dengan neneknya sambil bersekolah di sebuah sekolah elit swasta.

    Belakangan ibunya kembali ke Indonesia bersama Maya, saudara tiri perempuan Obama yang kini menjadi guru besar di Universitas Hawaii, dan menjadi ahli kerajinan tangan wanita, juga menenun kain yang biasa diproduksi wanita Jawa.

    Suryakusuma mengenang bahwa Dunham menyapa putranya dengan “Barry” – Barry dengan irama Indonesia.

    “Kami berdua adalah ibu dari anak-anak selalu bercerita tentang sulitnya menjalani kehidupan, terutama di saat bercerai, kendati demikian yang amat diutamannya adalah pendidikan Barry.

    Dia pertama kali bertemu Obama ketika ia mengunjungi ibunya sebagai anak dewasa.

    “Ia (ibu) amat bangga dengannya. Saya ingat ia (ibu) ketika itu sedang bersinar dengan kebanggaan saat ia (Obama) tercatat sebagai orang hitam pertama menjadi Presiden Harvard Law Review”, kata Suryakusuma.

    “Kau tahu, memiliki ibu berkulit putih dengan ayah berkulit hitam dan datang ke Indonesia,“ papar Suryakusuma, “Saya menyaksikan ia memiliki sikap empati dengan warga setempat, seperti halnya sikap sang ibu.”

    Warisan multi-budaya menyebabkan adanya jarak antara Obama dengan komunitas Afrika-AS, yang mana membuatnya segan menyapanya sebagai “saudara”.

    Komunitas warga kulit putih AS, secara kontras, telah memeluk Obama sebagai suatu penegasan harapan bahwa wajah campuran yang banyak diceritakan orang bisa lebih penting daripada ras.

    Dengan nama tengahnya Hussein (seperti Saddam Hussein) dan nama depanya Obama (seperti Osama), ia menjadi figur yang langka dan eksotis dalam kehidupan politik di AS.

    “Saya percaya pemilih AS telah siap mendukung pemimpin-pemimpin yang mewujudkan mimpi AS kendati mereka memiliki perbedaan-perbedaan . Dengan begitu, kita mempertegas diri kita sendiri sebagai orang-orang yang toleran”, kata William Galston, peneliti senior tentang kebijakan publik pada Brookings Institute di Washington.

    Benar, di sana terdapat rincian kehidupan pribadi Obama yang menjadi subyek penelitian secara cermat. Itu mungkin bukan informasi itu sendiri bahwa bahan-bahan, menurut Galston, tetapi “Bagaimnana Obama berbicara tentang fakta-fakta, seperti mereka memunculkan dan menimbulkan pertanyaan dan kontroversi- kontroversi.

    Kolumnis Chicago Sun-Times, Lynn Sweet menyoroti untuk pertama kali pada 2004, ketika Obama mendadak muncul di panggung politik nasional saat konvensi Partai Demokrat, bahwa memoarnya, Dreams from My Father, berisi gabungan karakter dan perubahan nama-nama.

    “Kecuali figur-figur publik dan keluarganya, mustahil mengetahui siapa yang nyata, dan siapa yang tidak.

    Obama mengakui banyak saat memperkenalkan diri dengan mengatakan dia telah merubah karakter “demi privasi mereka”.

    Ibarat membuka rahasia bahwa dia membawa kokain di saat remaja, dia memunculkan dengan jujur tentang wilayah yang potensial menimbulkan kontroversi.

    Keluarga Afrika Obama benar-benar mengalami kesulitan. Dalam kehidupan pribadinya, ayahnya tidak pernah meninggalkan Kezia, istri pertamanya, di Kenya.

    Dalam perkawinannya dengan Obama Sr, ia melahirkan dua anak, Roy dan Auma, yang kini sebagai pegiat sosial di Berkshire.

    Mereka telah bercerai, ibu Obama yang menuntut cerai, namun itu adalah pernikahan bawah tangan yang tidak menggunakan dokumen perkawinan resmi, sehingga tak dapat memenuntut perceraian.

    Ayah dan ibunya juga menikah di Hawaii yang mungkin juga tidak memiliki dokumen resmi.

    “Bagaimana dan kapan perkawinan itu terjadi menyisakan kemuraman, suatu tagihan khusus yang saya sendiri sulit mengungkapnya, ” tulis Obama dalam memoarnya.

    Setelah ayahnya meninggalkan Ann bersama Barack yang berusia dua tahun untuk bersekolah di Harvard, Obama pergi ke Afrika dengan seorang wanita AS lainnya, Ruth, yang menjadi istri ketiganya.

    Dia memberinya dua anak di Kenya, salah satunya meninggal dalam kecelakaan sepeda motor, tapi Obama Sr tetap bertahan dengan Kezia.

    “Secara tradisi, dia tetap sebagai istrinya,” kata seorang kerabatnya. Kezia pun melahirkan dua anak laki-laki, Abo dan Bernard.

    Kendati ayah mereka terlibat cekcok dengan kalangan keluarganya, Obama Sr tetap menaruh hormat sebagai miliknya.

    Menjelang akhir hayatnya, ia menjadi ayah dari seorang anak lelaki lainnya, George, beribu seorang wanita muda Kenya.

    Setelah kedua orang tuanya berpisah, Obama menyaksikan ayahnya meninggal dalam kecelakaan mobil di Kenya pada 1982.

    Saudara laki-lakinya, Roy, berpindah ke AS dan belakangan memeluk Islam.

    Obama sendiri menjadi seorang Kristen yang taat ketika dia aktif dalam kegiatan sosial di Chicago. Pertengahan Januari lalu, ia mencela laporan yang menyebutkan bahwa ia adalah jebolan madrasah sebagai apa yang disebutnya “fitnah” yang lucu.

    Larry Sabato, guru besar ilmu politik pada Universitas Virginia, percaya bahwa latar belakangan Afrika dan Indonesia yang beraneka ragam dalam kehidupan Obama, bakal menarik perhatian pemilih, terlepas dari kontroversinya.

    “Amerika menyukai suatu kisah sukses – generasi baru yang muncul dari dosa dan ketidakberuntungan generasi lama,” kata Saboto.

    Di Indonesia, Suryakusuma mengatakan, dia senantiasa merasa hangat atas kenangan yang ditinggal ibu Obama.

    “Dia bakal merasa bangga bila ia mengetahui tentang Barry, demikian bangganya untuk memikirkan bahwa anak ciliknya akan bertarung memenangkan kursi presiden AS.

    Kisahg Cinta Habibi Dan Ainun


    Cinta dan kesetiaan pasangan mantan Presiden RI, BJ Habibie dengan istrinya Ainun Habibie memang memberikan inspirasi banyak orang. Jika anda sudah mengenal kisah cinta nan romantis Romeo dan Juliet atau Layla dan Majnun, maka Indonesia kini tidak hanya memiliki dongeng Rama dan Shinta. Kali ini Kumpulan Sejarah akan menyajikan secara lengkap mengenai Sejarah Kisah Cinta Habibie dan Ainun.


    Sejarah Kisah Cinta Habibie dan Ainun
    Cerita Habibie dan Ainun justru diangkat dari kisah nyata yang diangkat dari buku setebal 323 halaman yang ditulis oleh Habibie, mengenai perjalanan cintanya bersama Alm. Hasri Ainun Besari. Menjelang pergantian tahun 2012, air mata berderai di berbagai bioskop tanah air. Kerinduan akan sebuah tayangan yang mengaduk emosi akhirnya terbayar melalui film Habibie & Ainun. Film yang bercerita tentang kisah cinta BJ Habibie dan Ainun Habibie membuat banyak orang, khususnya wanita, ingin memiliki kisah cinta yang sama, atau setidaknya, sebuah cinta sejati yang luar biasa.

    Film Habibie & Ainun dimulai ketika mereka berjumpa pertama kali di masa sekolah. Sejak awal, keduanya digambarkan sebagai siswa siswi cerdas yang oleh para guru ‘diramalkan’ berjodoh. Hanya saja, jiwa muda Habibie belum menemukan sisi cantik dan keteguhan hati seorang Ainun. Bahkan, Habibie mengatakan bahwa Ainun jelek, gendut, hitam.. seperti gula jawa. Sebuah ejekan manis dan sukses membuat banyak penonton tersenyum.


    Sejarah Kisah Cinta Habibie dan Ainun
    Gula jawaku sudah berubah jadi gula pasir
    Waktu bergulir, keduanya melanjutkan sekolah di tempat yang berbeda. Habibie mengambil ilmu teknik mesin, sedangkan Ainun mengambil ilmu kedokteran. Takdir mempertemukan mereka kembali. Ainun yang dulu dikatakan seperti gula jawa, telah memancarkan aura gadis cerdas, teguh dan cantik. Habibie meralat kata-katanya dulu, Ainun tidak lagi menjadi gula jawa, tetapi gula pasir yang murni dan manis.

    Sebagai gadis yang cerdas dan cantik, banyak pria yang mengantri untuk mengambil hati Ainun. Habibie yang pada waktu muda bukan siapa-siapa (bahkan dicap miskin) tetap percaya pada hatinya bahwa Ainun adalah gadis yang akan menjadi pendampingnya. Walau teman-temannya pesimis akan sikap Habibie, Habibie yakin bahwa jodoh sudah ada yang mengatur.

    Dengan logika ilmu teknik yang dimiliki, Habibie berpendapat
    “Mau ganteng atau tidak, kalau hatinya tidak satu frekuensi, bagaimana?”
    – BJ Habibie dalam film Habibie & Ainun

    Saya akan menjadi suami yang terbaik untuk Ainun...
    Sekali lagi, garis jodoh menunjukkan bahwa ‘frekuensi’ Habibie dan Ainun berada pada jalur yang sama dan cocok. Tidak perlu waktu lama hingga Habibie menyatakan rasa suka dan keseriusannya untuk  menikah dan membawa Ainun tinggal bersama di Jerman, untuk mendampingi Habibie menyelesaikan sekolah dan impiannya membuat pesawat terbang Indonesia. Inilah kata-kata manis yang membuat Ainun mantap menjatuhkan hatinya pada Habibie.

    “Saya tidak bisa menjanjikan banyak hal. Saya tidak tahu apakah hidup kita di Jerman akan sulit atau tidak, apakah Ainun tetap bisa menjadi dokter atau tidak. Tapi yang jelas, saya akan menjadi suami yang terbaik untuk Ainun.”

    Mereka berdua akhirnya menikah pada tanggal 12 Mei 1962. Habibie langsung memboyong Ainun untuk tinggal bersamanya di Jerman. Tempat yang jauh dari Indonesia, tempat dimana mereka mulai berjuang membangun sebuah keluarga.

    Saya dan Ainun adalah dua raga tetapi dalam satu jiwa
    Tinggal di negara orang lain menjadi sebuah perjuangan yang berat. Habibie dan Ainun mengalami masa-masa yang berat, tetapi mereka saling menguatkan, saling menopang. Hingga sedikit demi sedikit, kehidupan mereka semakin baik. Kebahagiaan mereka semakin lengkap dengan kehadiran dua buah hati yang menggemaskan. Saat anak-anak mereka sudah bisa dititipkan pada pengasuh, Ainun kembali rindu untuk menolong orang lain. Dengan izin Habibie, Ainun membuka praktik sebagai dokter anak.

    Di sinilah keteguhan seorang istri dan ibu dipertaruhkan. Saat Habibie mulai merakit mimpi-mimpinya, Ainun berada dalam titik penentuan. Di saat Ainun menolong banyak anak dan menyembuhkan mereka dari sakit, justru putranya mengalami sakit. Hal itu membuat pemikiran Ainun berubah. Akhirnya wanita yang lemah lembut ini menanggalkan jubah dokter untuk mengabdi sepenuhnya untuk suami dan buah hati mereka.

    Saat Habibie kembali ke Indonesia untuk mewujudkan mimpinya membuat pesawat terbang, Ainun selalu setia mendampingi dan menguatkan suaminya. Juga saat Habibie masuk dalam dunia politik yang penuh godaan uang dan perempuan muda yang cantik, kedua tetap memperjuangkan kesetiaan akan cinta dan pengabdian untuk negara. Ainun tidak pernah lupa menyiapkan obat untuk sang suami, dengan kenyataan bahwa dia sendiri sudah divonis memiliki kanker ovarium. Ainun merahasiakan hal itu dari suaminya, dengan harapan agar Habibie tetap fokus mengemban tugasnya yang semakin berat.

    Selamat jalan sayang....
    Sedikit demi sedikit, kanker yang diderita Ainun menggerogoti tubuhnya. Habibie akhirnya mengetahui beban berat yang ditanggung Ainun. Berkali-kali operasi dilakukan, bahkan dengan alat kedokteran terbaru di Jerman, tetapi kondisi Ainun tidak kunjung membaik. Bagi Habibie, dia harus memperjuangkan kehidupan Ainun, karena sang istri telah banyak berkorban untuknya. Sesungguhnya, jauh di lubuk  hati Ainun, dia tidak pernah merasa dikorbankan, dia tulus mendampingi Habibie dan menjadi istri yang setia, seperti janjinya dahulu sebelum menikah.

    Takdir membuat Habibie dan Ainun berpisah. Air mata tidak cukup untuk menunjukkan bagaimana seorang Habibie yang kuat dan tegar harus kehilangan wanita yang sangat dia cintai, wanita tegar yang selalu mendampinginya, wanita yang masih memikirkan kesehatan Habibie disaat dia harus berjuang dengan kanker yang menggerogoti tubuhnya.

    PUISI BJ HABIBIE UNTUK ISTRINYA
    AINUN Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...
    Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu ...
    Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya ...
    Dan kematian adalah sesuatu yang pasti ...
    Dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu ...
    Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat ...
    Adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, ....
    sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,.....
    hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi ...
    Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang ...
    Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang ...
    Pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada ...
    Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau di sini ...
    Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang ...
    tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik ...
    Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
    tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia,
    kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini ...
    Selamat jalan ... Kau dari-Nya,...
    dan kembali pada-Nya ... 
    kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada ...
    selamat jalan sayang ...
    cahaya mataku, penyejuk jiwaku...
    selamat jalan ...
    calon bidadari surgaku ... - HABIBIE

    Sejarah Kisah Cinta Habibie dan Ainun
    Sebuah kisah cinta dan kesetiaan yang membuat banyak wanita ingin memiliki kisah cinta yang sama. Seperti itulah seharusnya seorang pria, seorang suami, dan seperti itulah seharusnya seorang wanita, seorang istri. Saling menopang, saling menjaga, saling mencinta dan setia dalam kemesraan yang manis.

    Kisah cinta yang manis yang dapat menjadi inspirasi besar untuk kita.

    Kamu itu orang paling keras kepala dan paling sulit yang pernah aku kenal. Tapi jika aku harus mengulang hidupku, aku akan tetap memilih kamu. – Ainun dalam film Habibie & Ainun

    Sejarah Hijrahnya Rasulullah SAW Dari Makkah Ke Madinah


    Hijrah yang berarti perpindahan dianggap sebagai salah satu ibadah dengan nilai pahala yang tinggi. Dalam banyak ayat al-Quran Allah Swt menjelaskan kemuliaan ibadah ini dan menjanjikan ganjaran yang berlipat ganda kepada mereka yang berhijrah. Sebab, selain kesulitan yang dihadapi seorang muhajir baik kesulitan karena meninggalkan negeri asal, kesulitan di negara baru dan banyak hal lain, hijrah juga dimaksudkan untuk menjaga dan memelihara agama dan risalah ilahi yang terakhir ini.


    Hijrah Nabi ke Madinah

    ALI MENGGANTIKAN TIDUR RASULULLAH SAW

    Quraisy berencana membunuh Muhammad, karena dikuatirkan ia akan hijrah ke Madinah. Ketika itu kaum Muslimin sudah tak ada lagi yang tinggal kecuali sebagian kecil. Ketika perintah dari Alloh SWT datang supaya beliau hijrah, beliau meminta Abu Bakar supaya menemaninya dalam hijrahnya itu. Sebelum itu Abu Bakar memang sudah menyiapkan dua ekor untanya yang diserahkan pemeliharaannya kepada Abdullah bin Uraiqiz sampai nanti tiba waktunya diperlukan.

    Pada malam akan hijrah itu pula Muhammad membisikkan kepada Ali bin Abi Talib supaya memakai mantelnya yang hijau dari Hadzramaut dan supaya berbaring di tempat tidurnya. Dimintanya supaya sepeninggalnya nanti ia tinggal dulu di Mekah menyelesaikan barang-barang amanat orang yang dititipkan kepadanya. Demikianlah, ketika pemuda-pemuda Quraisy mengintip ke tempat tidur Nabi Muhammad Saw, mereka melihat sesosok tubuh di tempat tidur itu dan mengira bahwa Nabi Saw masih tidur.

    DI DALAM GUA TSUR

    Rasullah (SAW) dan Abu Bakar (RA) tinggal di dalam goa Tsur pada hari Jum’at, Sabtu, dan Ahad. Selama itu, berlangsung pertolongan bagi mereka berdua.

    1. Abdullah bin Abu Bakar (RA) mendatangi goa pada malam hari dan menyampaikan berita perihal berbagai rencana dan kegiatan orang-orang kafir kepada mereka berdua. Sebelum fajar ia sudah kembali ke Makkah sehingga seolah-olah ia selalu berada di Makkah.

    2. Amar bin Fuhairah menggiring domba-domba gembalaannya ke dalam goa pada malam hari sehingga Rasulullah (SAW) dan Abu Bakar (RA) bisa minum susu domba hingga cukup kenyang. Amar menggiring kembali domba-dombanya ke Makkah sebelum fajar selang beberapa waktu setelah Abdullah bin Abu Bakar kembali ke Makkah, dengan demikian jejak kaki Abdullah terhapus oleh jejak domba-domba itu.

    3. Abdullah bin Ariqat Laitsi, seorang kafir yang dapat dipercaya dan bekerja sebagai pemandu yang diupah oleh Abu Bakar (RA) datang ke goa ini, setelah hari ke-tiga, membawa dua ekor onta.

    4. Pada waktu itu Abu Bakar (RA) menawarkan satu dari onta itu kepada Nabi (SAW) sebagai hadiah. Namun beliau (SAW) memaksa membeli onta itu. Abu Bakar (RA) pun akhirnya bersedia menerima pembayaran sebesar empat ratus dirham untuk onta itu. Onta inilah yang kemudian dikenal sebagai onta Rasulullah (SAW) yang dinamai Quswa.

    5. Dengan dipandu oleh Abdullah bin Ariqat, mereka berdua memulai perjalanan menuju Madinah. Amar juga menyertai perjalanan mereka.

    SURAQA

    Ketika itu Quraisy mengadakan sayembara, barangsiapa bisa menyerahkan Muhammad akan diberi hadiah seratus ekor unta. Mereka sangat giat mencari Rasululloh Saw. Ketika terdengar kabar bahwa ada rombongan tiga orang sedang dalam perjalanan, mereka yakin itu adalah Muhammad dan beberapa orang sahabatnya. Suraqa b. Malik b. Ju’syum, salah seorang dari Quraisy, juga ingin memperoleh hadiah seratus ekor unta. Tetapi ia ingin memperoleh hadiah seorang diri saja. Ia mengelabui orang-orang dengan mengatakan bahwa itu bukan Muhammad. Tetapi setelah itu ia segera pulang ke rumahnya. Dipacunya kudanya ke arah yang disebutkan tadi seorang diri.

    Demikian bersemangatnya Suraqa mengejar Nabi Muhammad Saw hingga kudanya dua kali tersungkur ketika hendak mencapai Nabi. Tetapi melihat bahwa ia sudah hampir kedua orang itu, ia tetap memacu kudanya karena rasanya Muhammad sudah di tangan. Akan tetapi kuda itu tersungkur sekali lagi dengan keras sekali, sehingga penunggangnya terpelanting dari punggung binatang itu dan jatuh terhuyung-huyung dengan senjatanya. Suraqa merasa itu suatu alamat buruk jika ia bersikeras mengejar sasarannya itu. Sampai di situ ia berhenti dan hanya memanggil-manggil:

    “Saya Suraqa bin Ju’syum! Tunggulah, saya mau bicara. Saya tidak akan melakukan sesuatu yang akan merugikan tuan-tuan.” Setelah kedua orang itu berhenti melihat kepadanya, dimintanya kepada Muhammad supaya menulis sepucuk surat kepadanya sebagai bukti bagi kedua belah pihak. Dengan permintaan Nabi, Abu Bakr lalu menulis surat itu di atas tulang atau tembikar yang lalu dilemparkannya kepada Suraqa. Setelah diambilnya oleh Suraqa surat itu ia kembali pulang. Sekarang bila ada orang mau mengejar Nabi Saw, maka dikaburkan olehnya, sesudah tadinya ia sendiri yang mengejarnya.

    SEJARAH KISAH HIJRAH NABI MUHAMMAD SAW KE MADINAH


    Selama tujuh hari terus-menerus rombongan Rasululloh Saw berjalan, mengaso di bawah panas membara musim kemarau dan berjalan lagi sepanjang malam mengarungi lautan padang pasir dengan perasaan kuatir. Hanya karena adanya iman kepada Alloh Swt membuat hati dan perasaan mereka terasa lebih aman. Ketika sudah memasuki daerah kabilah Banu Sahm dan datang pula Buraida kepala kabilah itu menyambut mereka, barulah perasaan kuatir dalam hatinya mulai hilang. Jarak mereka dengan Madinah kini sudah dekati.

    Selama mereka dalam perjalanan yang sungguh meletihkan itu, berita-berita tentang Hijrah Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya yang akan menyusul kawan-kawan yang lain, sudah tersiar di Madinah. Penduduk kota ini sudah mengetahui, betapa kedua orang ini mengalami kekerasan dari Quraisy yang terus-menerus membuntuti. Oleh karena itu semua kaum Muslimin tetap tinggal di tempat itu menantikan kedatangan Rasululloh dengan hati penuh rindu ingin melihatnya, ingin mendengarkan tutur katanya. Banyak di antara mereka itu yang belum pernah melihatnya, meskipun sudah mendengar tentang keadaannya dan mengetahui pesona bahasanya serta keteguhan pendiriannya. Semua itu membuat mereka rindu sekali ingin bertemu, ingin melihatnya.

    MASYARAKAT MADINAH


    Tersebarnya Islam di Madinah dan keberanian kaum Muslimin di kota itu sebelumhijrah Nabi ke tempat tersebut sama sekali di luar dugaan kaum Muslimin Mekah. Beberapa pemuda Muslimin bahkan berani mempermainkan berhala-berhala kaum musyrik di sana. Seseorang yang bernama ‘Amr bin’l-Jamuh mempunyai sebuah patung berhala terbuat daripada kayu yang dinamainya Manat, diletakkan di daerah lingkungannya seperti biasa dilakukan oleh kaum bangsawan. ‘Amr ini adalah seorang pemimpin Banu Salima dan dari kalangan bangsawan mereka pula. Sesudah pemuda-pemuda golongannya itu masuk Islam malam-malam mereka mendatangi berhala itu lalu di bawanya dan ditangkupkan kepalanya ke dalam sebuah lubang yang oleh penduduk Madinah biasa dipakai tempat buang air.

    Bila pagi-pagi berhala itu tidak ada ‘Amr mencarinya sampai diketemukan lagi, kemudian dicucinya dan dibersihkan lalu diletakkannya kembali di tempat semula, sambil ia menuduh-nuduh dan mengancam. Tetapi pemuda-pemuda itu mengulangi lagi perbuatannya mempermainkan Manat ‘Amr itu, dan diapun setiap hari mencuci dan membersihkannya. Setelah ia merasa kesal karenanya, diambilnya pedangnya dan digantungkannya pada berhala itu seraya ia berkata: “Kalau kau memang berguna, bertahanlah, dan ini pedang bersama kau.” Tetapi keesokan harinya ia sudah kehilangan lagi, dan baru diketemukannya kembali dalam sebuah sumur tercampur dengan bangkai anjing. Pedangnya sudah tak ada lagi.

    Sesudah kemudian ia diajak bicara oleh beberapa orang pemuka-pemuka masyarakatnya dan sesudah melihat dengan mata kepala sendiri betapa sesatnya hidup dalam syirik dan paganisma itu, yang hakekatnya akan mencampakkan jiwa manusia ke dalam jurang yang tak patut lagi bagi seorang manusia, ia pun masuk Islam.

    MESJID QUBA'

    Ketika rombongan Rasululloh Saw sampai di Quba’, mereka tinggal empat hari ia di sana dan membangun mesjid Quba’. Di tempat ini Ali b. Abi-Talib ra menyusul, setelah mengembalikan barang-barang amanat – yang dititipkan oleh rasululloh Saw – kepada pemilik-pemiliknya di Mekah. Ali ra menempuh perjalanannya ke Madinah dengan berjalan kaki. Malam hari ia berjalan, siangnya bersembunyi. Perjuangan yang sangat meletihkan itu ditanggungnya selama dua minggu penuh, yaitu untuk menyusul saudara-saudaranya seagama.

    SAMPAI DI MADINAH

    Demikanlah akhirnya rombongan Rosululloh selamat sampai Madinah. Hari itu adalah hari Jum’at dan Muhammad berjum’at di Madinah. Di tempat itulah, ke dalam mesjid yang terletak di perut Wadi Ranuna itulah kaum Muslimin datang, masing-masing berusaha ingin melihat serta mendekatinya. Mereka ingin memuaskan hati terhadap orang yang selama ini belum pernah mereka lihat, hati yang sudah penuh cinta dan rangkuman iman akan risalahnya, dan yang selalu namanya disebut pada setiap kali sembahyang. Orang-orang terkemuka di Medinah menawarkan diri supaya ia tinggal pada mereka.

    Setiba Rasulullah (SAW) di Madinah, onta beliau (Quswa) duduk di lahan terbuka di dekat rumah Abu Ayyub Ansari (RA). Maka beliau (SAW) pun menetap di tempat itu sampai terselesaikannya pendirian Masjid Nabawi dan sebuah tempat berteduh untuk beliau. Seluruh sahabat bersama-sama Nabi (SAW) juga secara langsung turun tangan dalam pembangunan Masjid Nabawi, sebagaimana juga mereka melakukan bersama-sama dalam pembangunan Masjid Quba’.

    Beberapa hari kemudian, istri Nabi (SAW); Saudah (RA); dua putri beliau Fatimah (RA) and Ummu Kulsum (RA), Usamah bin Zaid (RA), ‘Aisyah (RA) dan Ummu Aiman (RA) juga menyusul hijrah ke Madinah dibawah kawalan Abdullah bin Abu Bakar (RA). Adapun putri beliau seorang lagi, Zainab (RA), baru diijinkan hijrah ke Madinah setelah terjadi peperangan Badar.

    Di Madinah, Rasulullah (SAW) memanjatkan doa (yang artinya) sebagai berikut, “Wahai Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah, atau bahkan lebih dari itu. Kami mohon, jadikanlah iklimnya menyehatkan bagi kami. Tambahkanlah keberkahan didalam takaran (shaq dan mud) kami, dan pindahkanlah panasnya Madinah hingga ke Juhfah.” Allah (SWT) mengabulkan doa beliau dan beliaupun menetap di Madinah karena begitu cintanya beliau terhadap kota ini. (Bukhari).

    ARTI PENTING HIJRAH

    Hijrah telah membawa akibat-akibat yang lebih jauh:

    1. Dari peristiwa ini, terjadi perubahan sosial. Islam sebagai sebuah kelompok/golongan didalam masyarakat telah berkembang menjadi sebuah kesatuan Ummat Islam. Maka sirnalah diskriminasi atas dasar warna kulit, kredo, ataupun kekayaan. Semua Muslim setara/egaliter.

    2. Menurut para ahli sejarah Muslim, Rasulullah (SAW) tiba di Quba‘ pada tanggal 16 Juli 632 M. yang mana berada dalam bulan Muharram, dari sinilah dimulainya perhitungan kalender Hijriyah.

    3. Adalah di Madinah, diletakkan dasar-dasar khilafah (pemerintahan) Islam. Peristiwa bersejarah berupa perjanjian-perjanjian yang dibuat bersama dengan kelompok Yahudi dan beberapa suku yang lain menjadi panduan bagi generasi-generasi yang kemudian.

    4. Diantara sekian banyak sahabat Nabi (SAW), beliau memilih Abu Bakar (RA) sebagai teman dalam perjalanan hijrah. Hal ini di abadikan didalam Al-Quran, Surah At-Taubah. Ini merupakan penghargaan paling utama bagi Abu Bakar (RA).

    5. Setiap orang yang berpola-pikir adil dan terbuka, dari tulisan ini dapat mengambil kesimpulan bahwa Abu Bakar (RA) telah memiliki peranan yang amat penting dalam peristiwa Hijrah. Maka sungguh amat menyedihkan bahwasanya sebagian orang masih menilai secara tidak adil terhadap diri sahabat yang demikian dihormati ini.

    KAUM MUSLIMIN DAN ISA


    Akan tetapi Islam melarang kaum Muslimin merendahkan kedudukan Isa - karena dia hamba Allah yang diberiNya kitab dan dijadikanNya seorang nabi, dijadikanNya ia orang yang beroleh berkah di mana pun ia berada, diperintahkanNya ia melakukan sembahyang, mengeluarkan zakat selama ia masih hidup, dijadikanNya ia orang yang berbakti kepada ibunya, dan tidak pula dijadikan orang yang pongah dan celaka. Bahagia ia tatkala dilahirkan, tatkala ia wafat dan tatkala ia dibangkitkan hidup kembali.

    ORANG-ORANG KRISTEN YANG FANATIK DAN MUHAMMAD

    Sedang dari pihak kaum Masehi, banyak di antara mereka itu yang menyindir-nyindir Muhammad dan menilainya dengan sifat-sifat yang tidak mungkin dilakukan oleh kaum terpelajar - untuk melampiaskan rasa kebencian yang ada dalam hati mereka serta beragitasi membangkitkan emosi orang. Meskipun ada dikatakan bahwa perang salib itu sudah berakhir sejak ratusan tahun yang lalu, namun fanatisma gereja Kristen terhadap Muhammad mencapai puncaknya sampai pada waktu-waktu belakangan ini. Dan barangkali masih tetap demikian kalau tidak akan dikatakan malah bertambah, sekalipun dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, berselubung misi dengan pelbagai macam cara. Hal ini tidak terbatas hanya pada gereja saja bahkan sampai juga kepada penulis-penulis dan ahli-ahli pikir Eropa dan Amerika, yang dapat dikatakan tidak seberapa hubungannya dengan pihak gereja.

    Bisa jadi orang merasa heran bahwa fanatisma Kristen terhadap Islam masih begitu keras pada suatu zaman yang diduga adalah zaman cerah dan zaman ilmu pengetahuan, yang berarti juga zaman toleransi dan kelapangan dada. Dan orang akan lebih heran lagi apabila mengingat kaum Muslimin yang mula-mula, betapa mereka merasa gembira melihat kemenangan kaum Kristen begitu besar terhadap kaum Majusi (Mazdaisma), melihat kemenangan pasukan Heraklius merebut panji-panji Persia dan dapat melumpuhkan tentara Kisra. Masa itu Persia adalah yang memegang tampuk pimpinan di seluruh jazirah Arab bagian selatan, sesudah Kisra dapat mengusir Abisinia dari Yaman. Kemudian Kisra mengerahkan pasukannya - pada tahun 614 - di bawah salah seorang panglimanya yang bernama Syahravaraz2 untuk menyerbu Rumawi, dan dapat mengalahkannya ketika berhadap-hadapan di Adhri’at3 dan di Bushra4, tidak jauh dari Syam ke negeri Arab. Mereka banyak yang terbunuh, kota-kota mereka dihancurkan, kebun-kebun zaitun dirusak.

    Pada waktu itu Arab - terutama penduduk Mekah - mengikuti berita-berita perang itu dengan penuh perhatian. Kedua kekuatan yang sedang bertarung itu merupakan peristiwa terbesar yang pernah dikenal dunia pada masa itu. Negeri-negeri Arab ketika itu menjadi tetangga-tetangganya. Sebahagian berada di bawah kekuasaan Persia, dan sebahagian lagi berbatasan dengan Rumawi. Orang-orang kafir Mekah bergembira sekali melihat kekalahan kaum Kristen itu; sebab mereka juga Ahli Kitab seperti kaum Muslimin. Mereka berusaha mengaitkan tercemarnya kekalahan Kristen itu dengan agama kaum Muslimin.

    Sebaliknya pihak Muslimin merasa sedih sekali karena pihak Rumawi juga Ahli Kitab seperti mereka. Muhammad dan sahabat-sahabatnya tidak mengharapkan kemenangan pihak Majusi dalam melawan Kristen. Perselisihan kaum Muslimin dan kaum kafir Mekah ini sampai menimbulkan sikap saling berbantah dari kedua belah pihak. Kaum kafirnya mengejek kaum Muslimin, sampai ada di antara mereka itu yang menyatakan kegembiraannya di depan Abu Bakrf dan Abu Bakrpun sampai marah dengan mengatakan: Jangan lekas-lekas gembira; pihak Rumawi akan mengadakan pembalasan.

    Abu Bakr adalah orang yang terkenal tenang dan lembut hati. Mendengar jawaban itu pihak kafir membalasnya dengan ejekan pula: Engkau pembohong. Abu Bakr marah: Engkaulah musuh Tuhan yang pembohong! Hal ini disertai dengan taruhan sepuluh ekor unta bahwa pihak Rumawi akan mengalahkan kaum Majusi dalam waktu setahun. Muhammad mengetahui adanya peristiwa taruhan ini, lalu dinasehatinya Abu Bakr, supaya taruhan itu ditambah dan waktunyapun diperpanjang. Abu Bakr memperbanyak jumlah taruhannya sampai seratus ekor unta dengan ketentuan, bahwa Persia akan dapat dikalahkan dalam waktu kurang dari sembilan tahun.

    Dalam tahun 625 ternyata Heraklius menang melawan pihak Persia. Syam direbutnya kembali dan Salib Besar dapat diambil lagi. Dalam taruhan ini Abu Bakrpun menang. Sebagai nubuat atas kemenagan ini firman Tuhan turun seperti dalam awal Surah ar-Rum: “Alif- Lam. Mim. Kerajaan Rumawi telah dikalahkan. Di negeri terdekat. Dan mereka, sesudah kekalahan itu, akan mendapat kemenangan. Dalam beberapa tahun saja. Di tangan Tuhan keputusan itu. Pada masa lampau, dan masa akan datang. Pada hari itu orang-orang beriman akan bergembira. Dengan pertolongan Allah; Ia menolong siapa yang dikehendakiNya. Maha Mulia Ia dalam Kekuasaan dan Maha Penyayang. Demikian janji Allah. Allah takkan menyalahi janjiNya. Tetapi kebanyakan orang tidak mengerti.” (QS, 30:1-6)

    Besar sekali kegembiraan kaum Muslimin atas kemenangan Heraklius dan kaum Nasrani itu. Hubungan persaudaraan antara mereka yang menjadi pengikut Muhammad dan mereka yang percaya kepada Isa, selama hidup Nabi, besar sekali, meskipun antara keduanya sering terjadi perdebatan. Tetapi tidak demikian halnya kaum Muslimin dengan pihak Yahudi, yang pada mulanya bersikap damai, lambat-laun telah menjadi permusuhan yang berlarut-larut, yang sampai meninggalkan bekas berdarah dan membawa akibat keluarnya orang-orang Yahudi dari seluruh jazirah Arab. Kebenaran atas kejadian ini ialah firman Tuhan: “Pasti akan kaudapati orang-orang yang paling keras memusuhi mereka yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik; dan pasti akan kaudapati orang-orang yang paling akrab bersahabat dengan mereka yang beriman ialah mereka yang berkata: ‘Kami ini orang-orang Nasrani.’ Sebab, di antara mereka terdapat kaum pendeta dan rahib-rahib, dan mereka itu tidak menyombongkan diri.” (QS, 5:82)

    ISLAM DAN NASRANI


    Kekuatan inilah yang telah menyebabkan Islam itu tersebar, telah dikonfrontasikan langsung dengan pihak Nasrani yang menghadapinya dengan sikap permusuhan yang sengit sekali. Muhammad telah berhasil melawan paganisma dan mengikisnya dari negeri-negeri Arab, seperti juga yang kemudian dilakukan oleh para penggantinya yang mula-mula, di Persia, di Afganistan dan tidak sedikit pula di India. Pengganti-pengganti Muhammad telah dapat juga mengalahkan kaum Nasrani di Hira, di Yaman, Syam, Mesir dan sampai ke pusat Nasrani sendiri di Konstantinopel.

    Seperti halnya dengan paganisma, adakah juga terhadap agama Nasrani akan senasib mengalami kelenyapan sebagai salah satu agama Kitab yang juga dihormati oleh Muhammad dan yang juga mendapat wahyu melalui Nabinya? Adakah orang-orang Arab itu, Arab pedalaman yang datang merantau dari pelosok jazirah padang pasir yang gersang, akan ditakdirkan juga menguasai taman-taman Andalusia, Bizantium dan daerah-daerah Masehi lainnya? Lebih baik mati daripada itu. Selama beberapa abad terus-menerus antara pengikut-pengikut Isa dan pengikut-pengikut Muhammad telah terjadi peperangan yang terus-menerus. Dan peperangan itu tidak terbatas pada pedang dan meriam saja, malah juga diteruskan sampai ke bidang-bidang perdebatan dan pertentangan teologis yang dibawa oleh pejuang-pejuang itu, masing-masing atas nama Muhammad dan atas nama Isa, masing-masing mencari jalan mempengaruhi

    LINGKUNGAN KEKUASAAN ISLAM YANG PERTAMA


    Tidak banyak waktu yang diperlukan Muhammad dalam menyampaikan ajaran agama, dalam menyebarkan panjinya ke penjuru dunia. Sebelum wafatnya, Allah telah menyempurnakan agama ini bagi kaum Muslimin. Dalam pada itu iapun telah meletakkan landasan penyebaran agama itu: dikirimnya misi kepada Kisra1, kepada Heraklius dan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa lain supaya mereka sudi menerima Islam. Tak sampai seratus limapuluh tahun sesudah itu, bendera Islampun sudah berkibar sampai ke Andalusia di Eropa sebelah barat, ke India, Turkestan, sampai ke Tiongkok di Asia Timur, juga telah sampai ke Syam (meliputi Suria, Libanon, Yordania dan Palestina sekarang), Irak, Persia dan Afganistan, yang semuanya sudah menerima Islam. Selanjutnya negeri-negeri Arab dan kerajaan Arab, sampai ke Mesir, Cyrenaica, Tunisia, Aljazair, Marokko, -sekitar Eropa dan Afrika- telah dicapai oleh misi Muhammad ‘alaihissalam. Dan sejak waktu itu sampai masa kita sekarang ini panji-panji Islam tetap berkibar di semua daerah itu, kecuali Spanyol yang kemudian diserang oleh Kristen dan penduduknya disiksa dengan bermacam-macam cara kekerasan. Tidak tahan lagi mereka hidup. Ada di antara mereka yang kembali ke Afrika, ada pula yang karena takut dan ancaman, berbalik agama berpindah dari agama asalnya kepada agama kaum tiran yang menyiksanya.

    Hanya saja apa yang telah diderita Islam di Andalusia sebelah barat Eropa itu ada juga gantinya tatkala kaum Usmani (Turki) memasukkan dan memperkuat agama Muhammad di Konstantinopel. Dari sanalah ajaran Islam itu kemudian menyebar ke Balkan, dan memercik pula sinarnya sampai ke Rusia dan Polandia sehingga berkibarnya panji-panji Islam itu berlipat ganda luasnya daripada yang di Spanyol.

    Sejak dari semula Islam tersebar hingga masa kita sekarang ini memang belum ada agama-agama lain yang dapat mengalahkannya. Dan kalaupun ada di antara umat Islam yang ditaklukkan, itu hanya karena adanya berbagai macam kekerasan, kekejaman dan despotisma, yang sebenarnya malah menambah kekuatan iman mereka kepada Allah, kepada hukum Islam, dengan memohonkan rahmat dan ampunan daripadaNya.

    Sejarah Islam Pertama Kali


    MUHAMMAD, ‘alaihi’sh-shalatu wassalam.

    Dengan nama yang begitu mulia, jutaan bibir setiap hari mengucapkannya, jutaan jantung setiap saat berdenyut, berulang kali. Bibir dan jantung yang bergerak dan berdenyut sejak seribu tiga ratus limapuluh tahun. Dengan nama yang begitu mulia, berjuta bibir akan terus mengucapkan, berjuta jantung akan terus berdenyut, sampai akhir zaman

    Pada setiap hari di kala fajar menyingsing, lingkaran-lingkaran putih di ufuk sana mulai nampak hendak menghalau kegelapan malam, ketika itu seorang muazzin bangkit, berseru kepada setiap makhluk insani, bahwa bangun bersembahyang lebih baik daripada terus tidur. Ia mengajak mereka bersujud kepada Allah, membaca selawat buat Rasulullah.

    Seruan ini disambut oleh ribuan, oleh jutaan umat manusia dari segenap penjuru bumi, menyemarakkannya dengan salat menyambut pahala dan rahmat Allah bersamaan dengan terbitnya hari baru. Dan bila hari siang, mataharipun berangkat pulang, kini muazzin bangkit menyerukan orang bersembahyang lohor, lalu salat asar, magrib, isya. Pada setiap kali dalam sembahyang ini mereka menyebut Muhammad, hamba Allah, Nabi dan RasulNya itu, dengan penuh permohonan, penuh kerendahan hati dan syahdu. Dan selama mereka dalam rangkaian sembahyang lima waktu itu, bergetar jantung mereka menyebut asma Allah dan menyebut nama Rasulullah. Begitulah mereka, dan akan begitu mereka, setelah Allah memperlihatkan agama yang sebenarnya ini dan melimpahkan nikmatNya kepada seluruh umat manusia.
     

    iklan bawah 630x30

    Copyright © 2014. Pustaka Islam - All Rights Reserved | Template By Maskolis and Panjz Online | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger