Headlines News:

    Manakah Yang Porno


    MANAKAH YANG PORNO,
    AL QURAN ATAUKAH ALKITAB KRISTEN?


    Kristen: Menurut anda, apakah Rancangan Undan-Undang Anti Pornografi & Pornoaksi atau yang disingkat dengan RUU-APP perlu disahkan oleh DPR?
    Islam: Ya jelas perlu dong disahkan! Menurut saya itu penting, sebab dewasa ini masalah Pornografi dan Pornoaksi sudah sangat meresahkan dan bahkan merusak apalagi terhadap anak-anak kita. Kalau menurut anda bagaimana?
    Kristen: Menurutku, RUU-APP tersebut tidak perlu disahkan oleh DPR menjadi suatu peraturan Undang-Undang, sebab kalau sampai disahkan, akan menimbulkan konflik dan problematika baru yang hanya akan membuat negara kita tambah kacau.
    Islam: Koq tambah kacau? Justru dengan disahkannya RUU-APP tersebut menjadi Undang-Undang  maka masalah Pornografi dan Pornoaksi tidak akan berkembang menjadi semakin parah, karena akan ada sanksi hukum bagi pelanggarnya.
    Kristen: Justru dengan adanya hukuman bagi pelanggarnya, maka akan terjadi pelanggaran HAM berat, dimana orang-orang yang ada di daerah seperti Bali, Irian dll akan terkena peraturan hukum atau sanksi karena sebagian mereka tidak berbusana yang menutup aurat mereka secara benar.
    Islam: Saya yakin dalam Undang-Undang tersebut, akan ada pengecualian khusus bagi beberapa daerah tertentu, sepanjang hal itu sebagai adat yang mengharuskan mereka berbusana seperti itu. Tapi insya Allah yang namanya adat atau budaya, pelan-pelan bisa berubah dan disesuaikan dengan keadaan.
    Kristen: Bagaimana pendapat bapak terhadap orang-orang Irian yang sebagian masih menghgunakan koteka. Apakah mereka semua akan dihukum karena bertentangan dengan RUU-APP tersebut?
    Islam: Seperti sudah saya katakan tadi, bahwa untuk sementara waktu harus ada pengecualian terhadap beberapa daerah, termasuk Irian. Artinya pemerintah harus berusaha memberikan pemahaman pada mereka tentang bagaiman berpakaian yang sopan yang menutup aurat. Harus kita ingat bahwa Irian termasuk daerah terbelakang dan masih tertinggal jauh dibanding daerah lainnya. Dan tingkat pendidikan mereka  sebagian besar masih sangat rendah dan terrbelakang. Tapi sekarang ini mereka sudah semakin maju dan kebiasaan pakai koteka pun sudah mulai ditinggalkan. Sekarang ini sudah banyak yang berpakaian seperti kita-kita ini.
    Kristen: Saya kira sulit mereka meninggalkan koteka yang sudah membudaya. Berarti yang masih pakai koteka akan terkena hukuman dong!
    Islam: Saya yakin bahwa koteka itu akan hilang dengan sendirinya kalau tingkat pengetahuan dan tingkat pendidikan mereka lebih baik. Buktinya para anggota dewan serta para pejabat pemerintah yang ada di DPR dan lembaga lainya yang berasal dari Irian, mereka merasa jauh lebih terhormat ke kantor dengan mengenakan jas, sepatu, dasi dll
    Kan belum pernah ada anggota dewan atau pejabat yang berasal dari Irian masuk kantor pakai koteka bukan? Nah ini membuktikan bahwa budaya atau tradisi bisa hilang seiring dengan kemajuan zaman dan semakin maju pendidikan dan ilmu pengetahuan.
    Kristen: Bagaimana dengan Bali yang tiap hari kedatangan turis asing berpakaian minim, bahkan setengah telanjang?
    Islam: Sudah kubilang tadi bahwa akan ada pengecualian, tapi bukan bebas begitu saja, tapi diatur. Misalnya khusus bagi turis-turis asing, mereka masih boleh berpakaian seperti yang kita lihat di pinggir pantai, tapi di luar Bali tidak boleh. Tapi jika di negara kita sudah bersyari’at Islam, daerah manapun di tidak akan ada pengecualian, semuanya harus berlaku sesuai yang diatur oleh pemerintah dan ulama.
    Kristen: Apakah bapak tidak melihat betapa besar pro dan kontra yang terjadi dewasa ini gara-gara RUU-APP tersebut?
    Islam: Benar! Pro dan kontra pasti ada selama kita hidup dalam negara besar seperti Indonesia, dimana begitu banyak perbedaan adat, budaya, kultur, agama dan suku yang serba majemuk. Tapi perlu kita ingat bahwa yang pro jauh lebih banyak ketimbang yang kontra. Ini membuktikan bahwa yang setuju agar RUU-APP disahkan jauh lebih banyak.
    Kristen: Yang tidak setuju kan mereka juga punya alasan yang kuat untuk menolak RUU-APP tersebut. Jadi menurut saya pemerintah sebaiknya tidak usah mencampuri urusan Pornografi dan Pornoaksi, biarlah semuanya berjalan sesuai dengan perkembangan zaman, agar tidak dibilang kita negara yang ketinggalan zaman.
    Islam: Yang tidak setuju, alasan mereka tidak rasional. Umumnya mereka takut kehilangan pekerjaan atau profesi yang suka menonjolkan aurat didepan umum, demi untuk mencari duit dan agar mereka lebih terkenal. Umunmnya  mereka adalah wanita. Dan maaf bukan berburuk sangka, biasanya tingkat pemahaman mereka tentang agama, jelas kurang!
    Kristen: Kalau jadi disahkan RUU-APP berarti akan merugikan kaum wanita. Apakah pemerintah tidak memperhatikan nasib kaum wanita Indonesia?
    Islam: Justru dengan disahkannya  RUU-APP, berarti pemerintah telah melindungi kaum wanita, apalagi anak-anak. Apakah anda tahu, bahwa VCD porno sudah merajalela dijual bebas dimana-mana dengan harga hanya tiga ribuan. Banyak kejadian anak lelaki dibawah umur sudah berani memperkosa anak kecil. Begitu pula pelajar yang masih muda belia, sebagian mereka sudah pernah berhubungan seks diluar nikah, gara-gara bebasnya VCD porno dijual dimana-mana. Coba kalau terjadi pada anak-anak anda sendiri bagaimana rasanya?
    Kristen: Kalau masalah VCD porno saya setuju dilarang, kalau perlu pabriknya atau pemasoknya dan penggandanya dihukum seberat-beratnya. Tapi kalau hanya berbusana terbuka, saya kira tergantung orang yang melihatnya. Perkembangan mode di zaman yang modern ini, sullit membendung bagi wanita yang tidak mau meniru busana seperti itu.

    KISAH ADAM
    Assalamu'alaykum Wr. Wb.
    Berdasarkan kajian seputar peristiwa Isra’ dan Mi’raj sebelumnya, maka disini penulis berpendapat bahwa Adam dan istrinya memang tidak berasal dari planet bumi yang kita diami ini. Saat Allah hendak menjadikan manusia sebagaii Khalifah dibumi, malaikat mengajukan pertanyaan kepada-Nya dengan menyatakan bahwa manusia hanya akan menumpahkan darah saja nantinya.
    Hal ini cukup mengherankan bagi kita, dari mana para Malaikat itu tahu mengenai hal ini, padahal saat itu manusia belum lagi diciptakan Tuhan ? Jawaban yang paling masuk akal adalah bahwa sebelum itu sudah pernah ada generasi manusia-manusia yang memiliki beberapa perbedaan struktural phisik dengan kita; dan selama kurun waktu yang ada, mereka hanya sibuk berperang dan saling membunuh.
    Jika tiba-tiba Tuhan menyebutkan Dia ingin menciptakan manusia jenis baru untuk menjadi Khalifah yang bertugas sebagai pengatur pemberdayaan sumber alam dibumi, tentunya ini bertentangan dengan pengetahuan yang sudah dikenal oleh para malaikat itu sebelumnya. Tetapi Allah menegaskan, Dia lebih mengetahui apa yang Dia inginkan dan Dia rencanakan.
    Ingatlah, saat Tuhanmu berkata kepada para malaikat : ‘Aku bermaksud untuk menjadikan seorang khalifah dibumi !’ ; Mereka bertanya : ‘Kenapa Engkau hendak menjadikan dibumi itu orang yang akan membuat kerusakan didalamnya dan menumpahkan darah ? ;
    Padahal kami selalu bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ? ; Dia menjawab : ‘Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa saja yang tidak kamu ketahui.’ – Qs. 2 al-Baqarah : 30
    Dari ilmu sejarah modern yang data-datanya diperoleh berdasar hasil penemuan arkeologi terkni kita bisa mengetahui bahwa bumi ini sudah diisi oleh makhluk sejenis manusia sejak lebih kurang 50.000 tahun yang lalu, akan tetapi manusia-manusia tersebut memiliki perbedaan yang mencolok dengan manusia modern yang disebut sebagai Homo Sapiens.
    Beberapa contohnya seperti Homo Erektus yang fosilnya ditemukan di Trinil (Ngawi) tahun 1894 oleh Dr. Dubois, kemudian Homo Sapiens Reanderthalensis yang ditemukan dilembah Neanderthal pada tahun 1896, Cro-Magnon dan sebagainya.
    Homo Sapiens Reanderthalensis misalnya memiliki wajah sangat menyeramkan, bertubuh pendek, tidak berdagu dan menonjol diatas matanya.
    Saya berpendapat, manusia-manusia purba non Homo Sapiens inilah contoh kasus yang pernah disaksikan oleh para malaikat dan diajukan mereka sebagai bukti kepada Allah saat Dia hendak menciptakan manusia baru sebagai khalifah-Nya dibumi ini.
    Dalam pemeriksaan arkeologi terhadap 41 lokasi yang berusia antara 1,8 juta hingga 10.000 tahun, Todd Surovell dari Universitas Wyoming menemukan bahwa hubungan antara manusia purba dengan gajah cocok dengan gelombang ekspansi populasi manusia.
    Artinya, seiring dengan tumbuhnya populasi manusia di suatu tempat, maka jumlah gajah turun - pada beberapa kasus bahkan lenyap. Temuan tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa ekspansi geografis manusia purba mengakibatkan kepunahan lokal gajah. Berlebihnya perburuan mungkin menjadi penyebab utama hal ini, kata Surovell, namun pemecahan populasi dianggap membuat kondisi makin parah (sumber : Kompas Cyber Media, http://www.kompas.com/teknologi/news/0504/20/160606.htm, dalam rubrik Sains & Teknologi, Manusia purba ikut melenyapkan populasi gajah)

    Jamal al-Nasir, Stories of The Prophets (www.DivineIslam.co.uk/DivineIslam/software/Prophets_Stories/) dalam komentarnya mengenai Adam dalam The Prophets of Almighty Allah, bahwa Ibn Qatadah dan Abdullah Ibn Umar menyatakan bahwa sebelum Allah menjadikan Adam dibumi ini, sudah ada penduduknya yang berasal dari kalangan Jin. Akan tetapi apa yang disampaikan oleh keduanya ini bukanlah perkataan langsung dari Nabi sendiri, bisa saja ini merupakan tafsir mereka mengenai ayat-ayat al-Qur’an yang membicarakan tentang Adam.
    Untuk itu kita juga harus melakukan analisa dari hasil penemuan arkeologi modern seputar fosil-fosil manusia purba dan mencocokkannya dengan informasi yang disampaikan oleh al-Qur’an. Jika memang baru pada penciptaan Adam sajalah bumi ini dihuni oleh manusia, bagaimana kita menghubungkan Adam yang menurut al-Qur’an memiliki ilmu pengetahuan melebihi malaikat dengan manusia purba yang masih berkutat dengan jaman batunya ?
    Dan Dia mengajarkan kepada Adam seluruh nama-nama, lalu mengemukakannya kepada para malaikat dan Dia berfirman :
    ‘Jelaskanlah nama-nama benda itu kepada-Ku bila memang kalian orang-orang yang benar ?’ ; Mereka menjawab:’Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami’ ; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. – Qs. 2 al-Baqarah : 31-32

    Memang al-Qur’an ada memberikan informasi bahwa Jin diciptakan lebih dahulu dari manusia namun konteksnya pada ayat tersebut hanya urutan penciptaan bukan dalam hal penempatan dibumi. Apalagi ayat al-Qur’an menceritakan dimana Jin dengan pemimpinnya yang bernama Iblis masih berada di Jannah saat Allah memerintahkan untuk bersujud kepada Adam, dan mereka baru keluar setelah diusir oleh Allah atas tindakan pembangkangan yang mereka lakukan.

    Dan Kami telah menciptakan Jin sebelum Adam dari api yang sangat panas – Qs. 15 al-Hijr : 27
    Tuhan berfirman : turunlah kamu dari sana, sebab tidak sepantasnya kamu berlaku sombong didalamnya; sungguh kamu termasuk kaum yang hina – Qs. 7 al-a’raaf : 13
    Kehendak Allah untuk menjadikan Adam selaku manusia pengganti generasi sebelumnya dibumi kita ini dicetuskan kepada para Malaikat-Nya, dan apa yang dilakukan oleh Iblis dengan godaannya terhadap Adam justru sebagai alat yang menjadi sebab peristiwa penurunan Adam dari Jannah menjadi nyata dan inilah yang sebenarnya menjadi pertanda kesiapan Adam untuk memulai misi utamanya diplanet bumi kita.
    Polemik pohon terlarang pada kisah Adam yang tercantum dalam al-Qur’an, telah mengundang perdebatan tiada henti dikalangan agamawan tradisional hingga ulama modern dan liberal sekarang ini. Berbagai pendapat telah menghiasi lembaran-lembaran halaman buku guna menyibak misteri pohon tersebut, mulai dari yang menyatakan bahwa pohon ini terdapat disurga yang berbeda dengan surganya orang-orang beriman kelak dihari kiamat hingga penafsiran pohon tersebut tidak lebih dari sekedar simbolitas kepatuhan dan keserakahan nafsu manusiawi Adam sudah menambah khasanah pengetahuan Islam.
    Menarik bila kita melihat pendapat Nazwar Syamsu yang menggambarkan pohon larangan ini sebagai sebuah larangan persetubuhan Adam atas diri istrinya yang konon disebut-sebut bernama Hawa. (sumber : Nazwar Syamsu, Tauhid dan Logika, al-Qur’an tentang al-Insan, Ghalia Indonesia, Jakarta, Januari, 1983, hal. 201)
    Disini Beliau menyebutkan bahwa arti kata Syajarah tidaklah harus diterjemahkan sebagai Pohon, namun bisa dianalogikan dengan pertumbuhan atau perkembangbiakan.
    Nazwar Syamsu juga mengkritik para penafsir Qur’an yang hanya memakai kamus bahasa Arab tradisional yang disusun berdasarkan pengetahuan dan peradaban sesuai jaman yang berlaku kala itu, padahal menurutnya al-Qur’an harus bisa dipahami dan diterjemahkan kedalam konteks dunia modern dan seyogyanya pola penafsiran kitab sucipun harus mengalami perkembangan.
    Uniknya, Nazwar Syamsu bukanlah orang pertama yang memberikan penafsiran kata Syajaratu sebagai larangan melakukan hubungan seksual antara Adam dan istinya, Dr. M. Quraish Shihab menulis dalam salah satu bukunya (yaitu Membumikan al-Qur’an, Penerbit Mizan, Bandung, Oktober 1992, hal 98) bahwa jauh sebelum itu, Dr. Mustafa Mahmud juga memberikan penafsiran yang serupa.
    Bagi penulis sendiri, baik Nazwar Syamsu maupun Mustafa Mahmud sekalipun tafsir keduanya dianggap telah menyalahi kaidah bahasa yang berlaku, namun pendapat mereka bisa kita pahami secara global dengan menghubungkan semua rangkaian cerita yang ada seputar Adam didalam al-Qur’an.
    Dan Kami katakan : Hai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di Jannah itu dan makanlah daripadanya sepuas apa yang engkau kehendaki, dan janganlah mendekati Syajarah ini, jika itu kamu lakukan maka kamu akan termasuk orang yang zalim. – Qs. 2 al-Baqarah : 35
    Hai Adam ! Tinggallah engkau dan istrimu di Jannah itu, makanlah yang mana saja engkau sukai, dan janganlah mendekati Syajarah ini, maka kamu akan termasuk orang zalim. – Qs. 7 al-A’raaf : 19
    Setan menggoda keduanya dengan bujuk-rayu, maka ketika keduanya merasakan Syajarah tersebut, tampaklah bagi keduanya tubuh mereka masing-masing, lalu segera menutupi diri dengan daun-daun Jannah. Dan Tuhan mereka menyeru kepada mereka : ‘Bukankah Aku mencegah kamu seputar Syajarah ? Dan telah Aku peringatkan kalian bahwa setan itu merupakan musuh yang nyata bagimu ! – Qs. al-A’raaf : 22
    Sejak semula, Allah bermaksud menjadikan manusia modern atau Homo Sapiens bernama Adam sebagai Khalifah atau manusia baru menggantikan manusia generasi sebelumnya diplanet bumi kita ini. Rencana Allah yang diungkapkan didalam al-Qur’an ini tidaklah dimulai dari bumi ini sendiri, melainkan berada di Jannah, diseputar Sidratul Muntaha yang berlokasi diufuk yang tinggi.
    Sebagai pertanda telah tibanya waktu penugasan Adam tersebut akan disertai oleh kemandirian dan kedewasaannya selaku manusia paripurna. Kedewasaan dan kemandirian seorang laki-laki pada umumnya mulai tampak sewaktu dia sudah berpikir untuk melakukan hubungan seksual dengan seorang wanita. Disini secara bijaksana kita bisa melihat bahwa larangan Allah hanya bersifat temporari atau sementara, dan ini juga bentuk ujian pertama kepada Adam.
    Jannah yang ada di Muntaha bukan tempat permanen bagi hidup Adam dan generasinya sebab Allah telah menentukan Bumi inilah tempat berdomisili Adam dan semua keturunannya, karena itu naluri meneruskan keturunan disana tidak akan sesuai dengan kehendak Allah.
    Meskipun demikian, Allah tidak ingin rencana-Nya menjadikan Adam Khalifah dibumi berjalan melalui paksaan, karena itu Allah sebelumnya telah memberi pengarahan kepada Adam dan istrinya agar tidak mendekati perbuatan tersebut, namun manakala Adam akhirnya melanggar dengan perantaraan setan, Allah tidak serta merta memutuskan tali kasih-Nya dengan menjadikan perbuatan tersebut sebagai dosa yang menurun kepada anak-anak Adam, Allah hanya menilai Adam telah lalai dari seruan-Nya dan Dia memaafkannya.
    Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, namun ia lupa dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat
    – Qs. 20 Thaha : 115
    Saat Adam dan istrinya terpedaya oleh setan dengan melakukan perbuatan yang sudah dilarang Allah ini, mereka tersentak kaget dan langsung ingat bahwa mereka sudah melakukan sebuah kesalahan. Karena itu al-Qur’an melukiskan Adam dan istrinya dengan sigap mengambil daun-daun yang ada didalam Jannah tersebut guna menutupi aurat masing-masing karena rasa malunya dan langsung memohon ampunan.
    Keduanya berkata : Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri; dan jika Engkau tidak memberi ampunan serta rahmat kepada kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang selalu merugi. - Qs. 7 al-A’raaf : 23
    Lalu Tuhannya memilihnya dan Dia menerima tobatnya dan memberikan petunjuk – Qs. 20 Thaha : 122
    Allah maha bijaksana, seluruh hukum dan ketetapan yang terjadi pada makhluk-makhlukNya berjalan sesuai rencana dan terjadi dengan logis, tanpa mengabaikan hukum sebab akibat. Isyarat bahwa Adam harus segera memulai tugas barunya memakmurkan bumi, menggantikan manusia purba sudah tiba.
    Ini bukan hukuman dari Allah, tetapi justru suatu rahmat dan kehormatan bagi manusia yang sudah terpilih menjadi wakil Allah dibumi. Karena itu konsep dosa turunan tidak pernah dikenal didalam ajaran Islam.
    Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari Jannah itu dan keluar dari keadaannya semula, lalu Kami berfirman :
    “Turunlah kalian ! sebagian dari kamu akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Bagi kalian ada tempat kediaman dibumi serta kesenangan hidup sampai batas waktu yang sudah ditentukan.” – Qs. 2 al-Baqarah : 36
    Istilah IHBITU atau turunlah adalah kalimah perintah, dan ini memiliki arti turun dari tempat yang tinggi ketempat yang lebih rendah, seperti dari gunung, dan juga dipakai dengan arti pindah dari satu tempat kesatu tempat yang lain. Hal ini sama dengan yang dikatakan oleh Qur'an pada turunnya Nabi Nuh dari kapal kedaratan, jatuhnya batu dari tempat tinggi dan lain sebagainya.
    Bagaimana dan dengan cara apa Adam diturunkan kebumi ini memang tidak dijelaskan lagi oleh Allah didalam al-Qur’an, namun bisa saja hal yang sama seperti kejadian pada Nabi Yehezkiel dan Nabi Muhammad juga terjadi pada diri Adam dan istrinya. Artinya, Adam dan istrinya diberangkatkan dari Jannah kebumi ini dengan suatu kendaraan antariksa sejenis Buraq.
    Ketika mereka tiba diplanet bumi kita ini, kendaraan mereka itu dikandaskan oleh Allah disuatu tempat sehingga terpisahlah Adam dan istrinya untuk sekian lamanya sehingga akhirnya mereka kembali berjumpa di padang Arafah, berjarak 25 Km dari kota Mekkah dan 18 Km dari Mina. (Arti dari Arafah sendiri adalah pertemuan).
    Mereka didaratkan terpisah oleh Allah sebagai pelajaran untuk mereka berdua agar dapat belajar mengendalikan hawa nafsu mereka masing-masing sekaligus memberikan kesempatan kepada Adam dan istrinya untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya dibumi ini yang tidak jauh berbeda dengan keadaan sewaktu mereka masih di Jannah.
    Hal ini dapat kita selami dari lamanya waktu mereka berpisah begitu mereka diturunkan dibumi dari Jannah sehingga menurut salah satu riwayat berjarak sekitar 200 tahunan (sumber : Drs. H. Abujamin Roham, Aku Pergi Haji, Penerbit Media Da’wah, Jakarta, 1994, hal 134).
    Mungkin kita menganggapnya tidak masuk akal, namun kita bisa mengkorelasikan kejadian ini dengan usia Nabi Nuh yang menurut al-Qur’an lamanya beliau tinggal bersama umatnya 950 tahun.(Lihat surah 29 al-‘Ankabut : 14) Juga usia ashabul Kahfi ketika tertidur didalam gua selama 309 tahun.(Lihat surah 18 al-Kahfi : 25)

    Wassalam,

    MAKHLUK


    KISAH ADAM
    Assalamu'alaykum Wr. Wb.
    Berdasarkan kajian seputar peristiwa Isra’ dan Mi’raj sebelumnya, maka disini penulis berpendapat bahwa Adam dan istrinya memang tidak berasal dari planet bumi yang kita diami ini. Saat Allah hendak menjadikan manusia sebagaii Khalifah dibumi, malaikat mengajukan pertanyaan kepada-Nya dengan menyatakan bahwa manusia hanya akan menumpahkan darah saja nantinya.
    Hal ini cukup mengherankan bagi kita, dari mana para Malaikat itu tahu mengenai hal ini, padahal saat itu manusia belum lagi diciptakan Tuhan ? Jawaban yang paling masuk akal adalah bahwa sebelum itu sudah pernah ada generasi manusia-manusia yang memiliki beberapa perbedaan struktural phisik dengan kita; dan selama kurun waktu yang ada, mereka hanya sibuk berperang dan saling membunuh.
    Jika tiba-tiba Tuhan menyebutkan Dia ingin menciptakan manusia jenis baru untuk menjadi Khalifah yang bertugas sebagai pengatur pemberdayaan sumber alam dibumi, tentunya ini bertentangan dengan pengetahuan yang sudah dikenal oleh para malaikat itu sebelumnya. Tetapi Allah menegaskan, Dia lebih mengetahui apa yang Dia inginkan dan Dia rencanakan.
    Ingatlah, saat Tuhanmu berkata kepada para malaikat : ‘Aku bermaksud untuk menjadikan seorang khalifah dibumi !’ ; Mereka bertanya : ‘Kenapa Engkau hendak menjadikan dibumi itu orang yang akan membuat kerusakan didalamnya dan menumpahkan darah ? ;
    Padahal kami selalu bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ? ; Dia menjawab : ‘Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa saja yang tidak kamu ketahui.’ – Qs. 2 al-Baqarah : 30
    Dari ilmu sejarah modern yang data-datanya diperoleh berdasar hasil penemuan arkeologi terkni kita bisa mengetahui bahwa bumi ini sudah diisi oleh makhluk sejenis manusia sejak lebih kurang 50.000 tahun yang lalu, akan tetapi manusia-manusia tersebut memiliki perbedaan yang mencolok dengan manusia modern yang disebut sebagai Homo Sapiens.
    Beberapa contohnya seperti Homo Erektus yang fosilnya ditemukan di Trinil (Ngawi) tahun 1894 oleh Dr. Dubois, kemudian Homo Sapiens Reanderthalensis yang ditemukan dilembah Neanderthal pada tahun 1896, Cro-Magnon dan sebagainya.
    Homo Sapiens Reanderthalensis misalnya memiliki wajah sangat menyeramkan, bertubuh pendek, tidak berdagu dan menonjol diatas matanya.
    Saya berpendapat, manusia-manusia purba non Homo Sapiens inilah contoh kasus yang pernah disaksikan oleh para malaikat dan diajukan mereka sebagai bukti kepada Allah saat Dia hendak menciptakan manusia baru sebagai khalifah-Nya dibumi ini.
    Dalam pemeriksaan arkeologi terhadap 41 lokasi yang berusia antara 1,8 juta hingga 10.000 tahun, Todd Surovell dari Universitas Wyoming menemukan bahwa hubungan antara manusia purba dengan gajah cocok dengan gelombang ekspansi populasi manusia.
    Artinya, seiring dengan tumbuhnya populasi manusia di suatu tempat, maka jumlah gajah turun - pada beberapa kasus bahkan lenyap. Temuan tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa ekspansi geografis manusia purba mengakibatkan kepunahan lokal gajah. Berlebihnya perburuan mungkin menjadi penyebab utama hal ini, kata Surovell, namun pemecahan populasi dianggap membuat kondisi makin parah , dalam rubrik Sains & Teknologi, Manusia purba ikut melenyapkan populasi gajah)

    Jamal al-Nasir, Stories of The Prophets dalam komentarnya mengenai Adam dalam The Prophets of Almighty Allah, bahwa Ibn Qatadah dan Abdullah Ibn Umar menyatakan bahwa sebelum Allah menjadikan Adam dibumi ini, sudah ada penduduknya yang berasal dari kalangan Jin. Akan tetapi apa yang disampaikan oleh keduanya ini bukanlah perkataan langsung dari Nabi sendiri, bisa saja ini merupakan tafsir mereka mengenai ayat-ayat al-Qur’an yang membicarakan tentang Adam.
    Untuk itu kita juga harus melakukan analisa dari hasil penemuan arkeologi modern seputar fosil-fosil manusia purba dan mencocokkannya dengan informasi yang disampaikan oleh al-Qur’an. Jika memang baru pada penciptaan Adam sajalah bumi ini dihuni oleh manusia, bagaimana kita menghubungkan Adam yang menurut al-Qur’an memiliki ilmu pengetahuan melebihi malaikat dengan manusia purba yang masih berkutat dengan jaman batunya ?
    Dan Dia mengajarkan kepada Adam seluruh nama-nama, lalu mengemukakannya kepada para malaikat dan Dia berfirman :
    ‘Jelaskanlah nama-nama benda itu kepada-Ku bila memang kalian orang-orang yang benar ?’ ; Mereka menjawab:’Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami’ ; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. – Qs. 2 al-Baqarah : 31-32

    Memang al-Qur’an ada memberikan informasi bahwa Jin diciptakan lebih dahulu dari manusia namun konteksnya pada ayat tersebut hanya urutan penciptaan bukan dalam hal penempatan dibumi. Apalagi ayat al-Qur’an menceritakan dimana Jin dengan pemimpinnya yang bernama Iblis masih berada di Jannah saat Allah memerintahkan untuk bersujud kepada Adam, dan mereka baru keluar setelah diusir oleh Allah atas tindakan pembangkangan yang mereka lakukan.

    Dan Kami telah menciptakan Jin sebelum Adam dari api yang sangat panas – Qs. 15 al-Hijr : 27
    Tuhan berfirman : turunlah kamu dari sana, sebab tidak sepantasnya kamu berlaku sombong didalamnya; sungguh kamu termasuk kaum yang hina – Qs. 7 al-a’raaf : 13
    Kehendak Allah untuk menjadikan Adam selaku manusia pengganti generasi sebelumnya dibumi kita ini dicetuskan kepada para Malaikat-Nya, dan apa yang dilakukan oleh Iblis dengan godaannya terhadap Adam justru sebagai alat yang menjadi sebab peristiwa penurunan Adam dari Jannah menjadi nyata dan inilah yang sebenarnya menjadi pertanda kesiapan Adam untuk memulai misi utamanya diplanet bumi kita.
    Polemik pohon terlarang pada kisah Adam yang tercantum dalam al-Qur’an, telah mengundang perdebatan tiada henti dikalangan agamawan tradisional hingga ulama modern dan liberal sekarang ini. Berbagai pendapat telah menghiasi lembaran-lembaran halaman buku guna menyibak misteri pohon tersebut, mulai dari yang menyatakan bahwa pohon ini terdapat disurga yang berbeda dengan surganya orang-orang beriman kelak dihari kiamat hingga penafsiran pohon tersebut tidak lebih dari sekedar simbolitas kepatuhan dan keserakahan nafsu manusiawi Adam sudah menambah khasanah pengetahuan Islam.
    Menarik bila kita melihat pendapat Nazwar Syamsu yang menggambarkan pohon larangan ini sebagai sebuah larangan persetubuhan Adam atas diri istrinya yang konon disebut-sebut bernama Hawa. (sumber : Nazwar Syamsu, Tauhid dan Logika, al-Qur’an tentang al-Insan, Ghalia Indonesia, Jakarta, Januari, 1983, hal. 201)
    Disini Beliau menyebutkan bahwa arti kata Syajarah tidaklah harus diterjemahkan sebagai Pohon, namun bisa dianalogikan dengan pertumbuhan atau perkembangbiakan.
    Nazwar Syamsu juga mengkritik para penafsir Qur’an yang hanya memakai kamus bahasa Arab tradisional yang disusun berdasarkan pengetahuan dan peradaban sesuai jaman yang berlaku kala itu, padahal menurutnya al-Qur’an harus bisa dipahami dan diterjemahkan kedalam konteks dunia modern dan seyogyanya pola penafsiran kitab sucipun harus mengalami perkembangan.
    Uniknya, Nazwar Syamsu bukanlah orang pertama yang memberikan penafsiran kata Syajaratu sebagai larangan melakukan hubungan seksual antara Adam dan istinya, Dr. M. Quraish Shihab menulis dalam salah satu bukunya (yaitu Membumikan al-Qur’an, Penerbit Mizan, Bandung, Oktober 1992, hal 98) bahwa jauh sebelum itu, Dr. Mustafa Mahmud juga memberikan penafsiran yang serupa.
    Bagi penulis sendiri, baik Nazwar Syamsu maupun Mustafa Mahmud sekalipun tafsir keduanya dianggap telah menyalahi kaidah bahasa yang berlaku, namun pendapat mereka bisa kita pahami secara global dengan menghubungkan semua rangkaian cerita yang ada seputar Adam didalam al-Qur’an.
    Dan Kami katakan : Hai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di Jannah itu dan makanlah daripadanya sepuas apa yang engkau kehendaki, dan janganlah mendekati Syajarah ini, jika itu kamu lakukan maka kamu akan termasuk orang yang zalim. – Qs. 2 al-Baqarah : 35
    Hai Adam ! Tinggallah engkau dan istrimu di Jannah itu, makanlah yang mana saja engkau sukai, dan janganlah mendekati Syajarah ini, maka kamu akan termasuk orang zalim. – Qs. 7 al-A’raaf : 19
    Setan menggoda keduanya dengan bujuk-rayu, maka ketika keduanya merasakan Syajarah tersebut, tampaklah bagi keduanya tubuh mereka masing-masing, lalu segera menutupi diri dengan daun-daun Jannah. Dan Tuhan mereka menyeru kepada mereka : ‘Bukankah Aku mencegah kamu seputar Syajarah ? Dan telah Aku peringatkan kalian bahwa setan itu merupakan musuh yang nyata bagimu ! – Qs. al-A’raaf : 22
    Sejak semula, Allah bermaksud menjadikan manusia modern atau Homo Sapiens bernama Adam sebagai Khalifah atau manusia baru menggantikan manusia generasi sebelumnya diplanet bumi kita ini. Rencana Allah yang diungkapkan didalam al-Qur’an ini tidaklah dimulai dari bumi ini sendiri, melainkan berada di Jannah, diseputar Sidratul Muntaha yang berlokasi diufuk yang tinggi.
    Sebagai pertanda telah tibanya waktu penugasan Adam tersebut akan disertai oleh kemandirian dan kedewasaannya selaku manusia paripurna. Kedewasaan dan kemandirian seorang laki-laki pada umumnya mulai tampak sewaktu dia sudah berpikir untuk melakukan hubungan seksual dengan seorang wanita. Disini secara bijaksana kita bisa melihat bahwa larangan Allah hanya bersifat temporari atau sementara, dan ini juga bentuk ujian pertama kepada Adam.
    Jannah yang ada di Muntaha bukan tempat permanen bagi hidup Adam dan generasinya sebab Allah telah menentukan Bumi inilah tempat berdomisili Adam dan semua keturunannya, karena itu naluri meneruskan keturunan disana tidak akan sesuai dengan kehendak Allah.
    Meskipun demikian, Allah tidak ingin rencana-Nya menjadikan Adam Khalifah dibumi berjalan melalui paksaan, karena itu Allah sebelumnya telah memberi pengarahan kepada Adam dan istrinya agar tidak mendekati perbuatan tersebut, namun manakala Adam akhirnya melanggar dengan perantaraan setan, Allah tidak serta merta memutuskan tali kasih-Nya dengan menjadikan perbuatan tersebut sebagai dosa yang menurun kepada anak-anak Adam, Allah hanya menilai Adam telah lalai dari seruan-Nya dan Dia memaafkannya.
    Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, namun ia lupa dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat
    – Qs. 20 Thaha : 115
    Saat Adam dan istrinya terpedaya oleh setan dengan melakukan perbuatan yang sudah dilarang Allah ini, mereka tersentak kaget dan langsung ingat bahwa mereka sudah melakukan sebuah kesalahan. Karena itu al-Qur’an melukiskan Adam dan istrinya dengan sigap mengambil daun-daun yang ada didalam Jannah tersebut guna menutupi aurat masing-masing karena rasa malunya dan langsung memohon ampunan.
    Keduanya berkata : Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri; dan jika Engkau tidak memberi ampunan serta rahmat kepada kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang selalu merugi. - Qs. 7 al-A’raaf : 23
    Lalu Tuhannya memilihnya dan Dia menerima tobatnya dan memberikan petunjuk – Qs. 20 Thaha : 122
    Allah maha bijaksana, seluruh hukum dan ketetapan yang terjadi pada makhluk-makhlukNya berjalan sesuai rencana dan terjadi dengan logis, tanpa mengabaikan hukum sebab akibat. Isyarat bahwa Adam harus segera memulai tugas barunya memakmurkan bumi, menggantikan manusia purba sudah tiba.
    Ini bukan hukuman dari Allah, tetapi justru suatu rahmat dan kehormatan bagi manusia yang sudah terpilih menjadi wakil Allah dibumi. Karena itu konsep dosa turunan tidak pernah dikenal didalam ajaran Islam.
    Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari Jannah itu dan keluar dari keadaannya semula, lalu Kami berfirman :
    “Turunlah kalian ! sebagian dari kamu akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Bagi kalian ada tempat kediaman dibumi serta kesenangan hidup sampai batas waktu yang sudah ditentukan.” – Qs. 2 al-Baqarah : 36
    Istilah IHBITU atau turunlah adalah kalimah perintah, dan ini memiliki arti turun dari tempat yang tinggi ketempat yang lebih rendah, seperti dari gunung, dan juga dipakai dengan arti pindah dari satu tempat kesatu tempat yang lain. Hal ini sama dengan yang dikatakan oleh Qur'an pada turunnya Nabi Nuh dari kapal kedaratan, jatuhnya batu dari tempat tinggi dan lain sebagainya.
    Bagaimana dan dengan cara apa Adam diturunkan kebumi ini memang tidak dijelaskan lagi oleh Allah didalam al-Qur’an, namun bisa saja hal yang sama seperti kejadian pada Nabi Yehezkiel dan Nabi Muhammad juga terjadi pada diri Adam dan istrinya. Artinya, Adam dan istrinya diberangkatkan dari Jannah kebumi ini dengan suatu kendaraan antariksa sejenis Buraq.
    Ketika mereka tiba diplanet bumi kita ini, kendaraan mereka itu dikandaskan oleh Allah disuatu tempat sehingga terpisahlah Adam dan istrinya untuk sekian lamanya sehingga akhirnya mereka kembali berjumpa di padang Arafah, berjarak 25 Km dari kota Mekkah dan 18 Km dari Mina. (Arti dari Arafah sendiri adalah pertemuan).
    Mereka didaratkan terpisah oleh Allah sebagai pelajaran untuk mereka berdua agar dapat belajar mengendalikan hawa nafsu mereka masing-masing sekaligus memberikan kesempatan kepada Adam dan istrinya untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya dibumi ini yang tidak jauh berbeda dengan keadaan sewaktu mereka masih di Jannah.
    Hal ini dapat kita selami dari lamanya waktu mereka berpisah begitu mereka diturunkan dibumi dari Jannah sehingga menurut salah satu riwayat berjarak sekitar 200 tahunan (sumber : Drs. H. Abujamin Roham, Aku Pergi Haji, Penerbit Media Da’wah, Jakarta, 1994, hal 134).
    Mungkin kita menganggapnya tidak masuk akal, namun kita bisa mengkorelasikan kejadian ini dengan usia Nabi Nuh yang menurut al-Qur’an lamanya beliau tinggal bersama umatnya 950 tahun.(Lihat surah 29 al-‘Ankabut : 14) Juga usia ashabul Kahfi ketika tertidur didalam gua selama 309 tahun.(Lihat surah 18 al-Kahfi : 25)

    Wassalam,

    JIN


    JIN
    Assalamu'alaykum Wr. Wb.
    Jin, apa dan bagaimana ?
    Sebagaimana telah disinggung oleh surah ar-Rahman dan al-Hijr, bahwa Jin tercipta dari api yang sangat panas, dan dari jenis Jin ini jugalah Iblis berasal.
    Dia menciptakan Jin dari nyala api - Qs. 55 ar-rahman : 15
    Iblis, adalah dia dari golongan jin - Qs. 18 al-Kahfi : 50
    Tetapi apakah semua Jin itu berlaku jahat seperti Iblis ?
    mari kita simak pengakuan langsung dari Jin kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang ada di firmankan ALLAH dalam al-Qur’an :
    Sesungguhnya diantara kami ada orang-orang sholeh dan diantara kami ada juga yang tidak, karena kami menempuh jalan yang berbeda-beda - Qs. 72 al-Jin : 11
    Bagaimana bisa ada Jin yang sholeh dan ada yang jahat ?
    Hai umat Jin dan manusia ! Apakah belum datang kepada kalian Rasul-Rasul dari jenismu sendiri ? Yang menyampaikan kepada kalian ayat-ayat Ku ? - Qs. 6 al-an’am : 130
    Jelas, Tuhan sudah mengutus kepada bangsa Jin dan manusia sejumlah Rasul-Nya dari jenis mereka sendiri (untuk bangsa Jin Rasulnya juga Jin dan untuk bangsa manusia Rasulnya juga manusia), sehingga seperti umumnya manusia, maka meskipun sudah ada utusan Tuhan, Jin pun tetap saja ada yang ingkar dan ada juga yang beriman. Sepanjang sejarah kerasulan, hanya dua kali penyimpangan pengutusan Rasul manusia yang juga berfungsi selaku Rasul bagi bangsa Jin, mereka adalah Nabi Sulaiman putra Daud dan Nabi Muhammad Saw ayah dari Fatimah az-Zahra.
    Apakah ini berarti menentang surah al-an’am diatas ?
    Saya tidak melihatnya seperti itu, saya berpendapat bahwa pengutusan Nabi Sulaiman kepada bangsa Jin berhubungan erat dengan mukjizat kenabiannya, bukankah masing-masing Nabi diutus dengan membawa kelebihan tersendiri dari sisi Tuhan ?
    Kami tundukkan juga untuk (Sulaiman) setan-setan
    - Qs. 38 Shaad : 37
    Lalu sebagian Jin ada yang bekerja dihadapan Sulaiman dengan izin Tuhannya - Qs. 34 Sabaa’ : 12
    Sementara pengutusan Nabi Muhammad kepada bangsa Jin berhubungan erat dengan status kenabian beliau selaku Khataman Nabi atau penutup para Nabi yang berfungsi menyebarkan rahmat bagi seluruh alam.
    Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai pembawa rahmat untuk seluruh alam - Qs. 21 al-anbiya : 107

    Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi.
    - Qs. 33 al-ahzaab : 40
    Diayat terakhir, Allah tidak menceritakan kepada kita mengenai status kenabian dari Muhammad yang terakhir apakah hanya berlaku untuk bangsa manusia saja ataukah juga berlaku bagi Nabi dari bangsa Jin ? Namun berasumsi dari surah al-anbiya, saya berpendapat bahwa status Khataman-Nabi dari Muhammad bersifat menyeluruh, artinya Beliau adalah Nabi terakhir yang diutus oleh Tuhan bagi Jin dan Manusia.
    Darimana kita tahu Nabi Muhammad pernah berdakwah didunia Jin ?
    Ceritakanlah : Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan Jin telah mendengar al-Qur’an - Qs. 72 al-Jin : 1
    Dan ketika Kami hadapkan serombongan Jin kepadamu untuk mendengarkan al-Qur’an - Qs. 46 al-ahqaaf : 1
    Sesungguhnya telah datang kepadaku utusan dari Jin Maka aku mendatangi mereka lalu aku membacakan al-Qur’an terhadap mereka
    - Hadis Riwayat Muslim dan Ahmad
    Adakah Nabi menjelaskan tentang keadaan atau jenis-jenis Jin yang ada ?
    Jin itu tiga jenis : Jenis yang memiliki sayap dan terbang diudara, Jenis ular dan kalajengking dan jenis menetap atau berpindah-pindah
    – Hadis Riwayat Thabrani, al-Hakim dan Baihaqi
    Apakah wujud Jin itu masih berbentuk api ?
    Saya belum mendapatkan informasi pastinya dari al-Qur’an maupun Hadist, akan tetapi menurut saya pribadi, Tidak ! Karena logikanya, manusia pun asalnya adalah tanah, lalu apakah kita ini masih berbentuk tanah juga ? demikian juga pasti dengan Jin, asalnya api, namun keadaan mereka sekarang pasti tidak lagi berbentuk api.
    Buktinya, Nabi Muhammad pernah bermaksud untuk mengikat Jin ‘Ifrit yang mencoba mengganggu sholat beliau sehingga wujud dari Jin itu bisa dilihat oleh orang awam dengan mata telanjang namun niat tersebut dibatalkan oleh Nabi sendiri mengingat hal itu sudah pernah menjadi mukjizat Nabi Sulaiman, dan ini mengindikasikan bahwa Jin itu sudah tidak lagi berwujud api, jika tidak, bagaimana cara Nabi mengikat Jin itu ?
    Sesungguhnya ‘Ifrit dari Jin telah meloncat kepadaku semalam untuk menghentikan Sholatku dan Allah memberi kuasa kepadaku terhadap Jin itu, maka aku bawa dia. Sebenarnya aku ingin mengikatnya kesebelah pagar masjid sehingga dengan demikian waktu pagi kamu semua dapat melihatnya tapi aku ingat perkataan saudaraku Sulaiman : Ya Tuhanku, ampunilah aku dan berilah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapapun setelahku, karena itu Allah menolaknya dengan mengusirnya – Hadis Riwayat Muslim
    Permintaan Nabi Sulaiman pada hadist diatas bisa juga dibaca pada surah 38 Shaad ayat 35, yang intinya Nabi Sulaiman meminta diberikan oleh ALLAH kekuasaan dan mukjizat istimewa yang tidak akan sama dengan manusia dan Nabi manapun yang hidup setelah kematiannya nanti (terbukti dengan di-izinkannya beliau memerintah bangsa Jin dan menguasai bahasa semut dan burung – lihat surah 27 an-Naml ayat 18 dan seterusnya).
    Kembali lagi pada wujud Jin, masih menurut saya, tanah maupun api merupakan unsur pembentuk pertama dan setelah melalui proses-proses yang ada, maka unsur-unsur tersebut hanya akan membekas pada sifat dan bukan lagi pada bentuk atau wujud tubuh dari manusia atau Jin. Sifat tanah itu keras, maka sifat dan hati manusia pun banyak yang keras, begitu pula sifat tanah itu lembut dan lengket, maka manusia juga tidak jarang memiliki sifat yang lemah lembut serta penyayang (melekatkan hati kepada sesuatu, baik dari sisi positip atau negatip). Sementara sifat api adalah panas, membakar, mudah dibawa oleh angin serta menghancurkan, maka ini juga yang menjadi sifat dari Jin dan mempengaruhi watak Iblis yang sombong, egoisme, mau menang sendiri, jahat, kejam serta siap menghancurkan atau menjerumuskan musuh-musuhnya.
    Selanjutnya, apakah Jin memiliki markas besar tempat semua jenisnya berkumpul ?

    Tidak ada informasi yang pasti seputar hal ini, namun Nabi ada menyatakan bahwa istana Iblis ada diatas air.
    Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya diatas air, Kemudian dia mengutus pasukannya Maka yang paling dekat kepadanya adalah yang paling hebat fitnahnya - Hadis Riwayat Muslim dari Jabir
    Mungkinkah lautan Bermuda adalah tempat dimana singgasana Iblis berada seperti hadis diatas, mengingat banyaknya kejadian aneh seperti hilangnya kapal laut dan udara yang melalui tempat tersebut ?
    Jawabnya pun kita tidak tahu pasti mengenai hal ini, namun harus diketahui juga bahwa laut Bermuda bukan satu-satunya tempat yang dianggap lautan setan, di Jepang terbukti ada juga lautan sejenis yang bernama Laut Formosa bahkan dipulau Jawa sendiri juga ada Laut Selatan yang dianggap orang sebagai pusat kerajaan Roro Kidul.

    Wassalam,

    MALAIKAT


    MALAIKAT
    Assalamu'alaykum Wr. Wb.
    Malaikat, apa dan bagaimana ?
    Istilah Malaikat telah dikenal oleh hampir semua umat beragama didunia ini, istilah tersebut bisa dijumpai didalam banyak ayat pada Kitab-kitab suci yang ada. Katakanlah misalnya seperti Kitab suci agama Budha Kuan Shi Yin Tsing, kitab Perjanjian Lama, kitab Perjanjian Baru maupun kitab suci al-Qur’an.
    Paul Claudel [1], seorang sastrawan katolik Perancis menulis : "Menyangkal adanya para malaikat berarti mencabut setiap dua halaman dari alkitab dan juga berarti memusnahkan segala buku doa !" pernyataan ini tidak lain disebabkan lebih dari 700 kali kata Malaikat disebut-sebut dalam al-Kitab. Bahkan adanya malaikat itu telah ditentukan sebagai dogma (ajaran yang harus diimani) oleh Konsili Lateran IV (1215) dan Konsili Vatikanum I (1889-1890) serta Konsili Nicea (787) dan Konsili Trente (1545-1563).
    Dalam bahasa Ibrani [2], kata Mal’Akh mengandung arti pesuruh yang menunjukkan status ataupun fungsi dari makhluk tersebut . Selain itu, didalam ajaran al-Kitab atau The Bible tidak semua malaikat bersifat suci, ada diantara mereka yang justru jatuh dan terjebak dalam dosa serta bisa dihakimi oleh manusia.
    Bahkan hamba-hamba Allah di surga, tak dapat dipercayai oleh-Nya. Bahkan pada malaikat-malaikat-Nya didapati-Nya kesalahan dan cela - Perjanjian Lama : Ayub : 4 : 18 [3]
    Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka - Perjanjian Baru : II Petrus : 2
    Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar - Perjanjian Baru: Yudas 1: 6
    Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat ? Jadi apalagi perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari - Perjanjian Baru: I Korintus 6 : 3
    Tentang tugas, jumlah maupun nama-nama dari malaikat, al-Kitab tidak bercerita apapun kepada kita kecuali Mikail yang dinyatakan selaku penghulu semua malaikat (Lihat Perjanjian Baru : Yudas 1 : 9) dan kelak akan bertempur melawan Iblis (Lihat Perjanjian Baru : Wahyu 12 : 7), malaikat Jibril atau Gabriel sebagai penyampai wahyu (Lihat Perjanjian Baru : Injil Lukas 1 : 19) dan Abadon yang bertugas mencabut nyawa (Lihat Perjanjian Baru : Wahyu 9 : 11).

    Ajaran Kristen juga mengenal keberadaan malaikat pelindung (Guardian Angel) yang diberikan Tuhan kepada tiap-tiap orang dan yang secara istimewa berfungsi melindungi jiwa dan badan manusia selama hidup maupun mati . Bahkan Paus Pius XI dan Paus Yohanes XXIII menekankan agar setiapkali manusia menghadapi kesulitan meminta bantuan kepada sang malaikat pelindung .
    Pengertian Malaikat sendiri menurut kamus Islam [4] adalah makhluk Allah yang diciptakan dari cahaya, sesuai dengan hadis yang berasal dari Nabi Muhammad yang disampaikan oleh ‘Aisyah, istri beliau.
    Malaikat diciptakan dari cahaya, Jin diciptakan dari api dan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan-Nya kepada kalian - Hadis Riwayat Muslim
    Mungkin karena adanya kesamaan unsur malaikat dengan unsur Tuhan inilah maka seluruh sifat yang ada pada malaikat menurut ajaran Islam adalah cermin dari sifat-sifat Allah sang Pencipta.
    Allah itu cahaya bagi langit dan bumi ...
    Cahaya diatas cahaya, Allah memimpin kepada cahaya-Nya
    Siapa yang Dia inginkan - Qs. 24 an-nur : 35
    Aku bertanya kepada Rasulullah Saw : “Adakah engkau melihat Tuhan?” Beliau menjawab : “Cahaya ! Bagaimana aku bisa melihat-Nya ?” - Hadis Riwayat Muslim dari Abu Zar
    Berbeda dengan ajaran al-Kitab tentang malaikat, maka Islam menjelaskan bahwa para malaikat itu senantiasa tunduk dan patuh kepada perintah Allah dan tidak pernah melanggar larangan-Nya.
    Sesungguhnya mereka (yaitu para malaikat) yang ada di sisi Tuhanmu tidak ingkar beribadah kepada-Nya dan mereka selalu bertakbir untuk-Nya serta hanya kepada-Nya saja mereka bersujud
    - Qs. 7 al-a’raf : 206
    Malaikat berbakti dengan memuji Tuhan mereka Dan memintakan ampunan bagi orang-orang yang ada dibumi
    - Qs. 42 asy-Syura : 5
    Para Malaikat yang di sisi-Nya, mereka tidak punya rasa angkuh untuk mengabdi kepada-Nya dan tidak merasa letih,
    mereka selalu bertakbir malam dan siang tiada henti-hentinya.
    - Qs. 21 al-anbiyaa : 19 - 20
    Ditengah umat Islam beredar sejumlah nama-nama malaikat berikut tugas dan kedudukan mereka. Dja’far Amir [5] misalnya, menyebutkan 9 nama dari malaikat yaitu: Jibril bertugas membawa wahyu kepada para Nabi dan Rasul, Izrail bertugas sebagai pencabut nyawa, Mungkar dan Nakir selaku dua malaikat yang melakukan interogasi terhadap mayat didalam kubur, Israfil berfungsi sebagai peniup sangkakala pada hari kiamat, Mikail bertugas memberikan hujan dan pengatur rezeki, Raqib dan ‘Atid selaku dua malaikat pencatat amal manusia, Ridwan sebagai penjaga syurga, Malik sebagai penjaga neraka dan Hamalatul ‘Arsy sebagai malaikat yang membawa ‘Arsy Tuhan dihari kiamat (Lihat Qs. 69 Al-Haqqah : 17).

    Al-Qur’an sendiri pada dasarnya tidak pernah menjelaskan nama-nama dari para malaikat sebagaimana tersebut diatas termasuk jumlah total dari mereka secara keseluruhan, berhubungan tentang malaikat, Al-Qur’an hanya mengenalkan nama Jibril yang disifatkan sebagai malaikat dengan akal cerdas (Lihat Qs. 53 an-Najm : 6) dan digelari juga sebagai Ruh Suci (Lihat Qs. 16 an-Nahl : 102) lalu Malik yang di-indikasikan sebagai nama malaikat penjaga neraka (Lihat Qs. 43 az-Zukhruf : 77) serta Mikail (Lihat Qs. 2 al-Baqarah : 98) dan Zabaniah (Lihat Qs. 96 al-Alaq : 18) yang tidak dijelaskan apa tugas dan fungsinya.
    Menyangkut istilah Malik tersebut, Dalimi Lubis [6] berpendapat bahwa nama ini belum bisa dikatakan sebagai nama individu, tetapi mengingat bahwa yang dipanggil Malik itu dalam ayat tersebut merujuk pada malaikat yang ada dan berkuasa dineraka maka lebih tepat jika nama ini merupakan gelar dari tugas malaikat tersebut, yaitu penjaga neraka.
    Pendapat Dalimi Lubis ini memang ada benarnya, sebab jika kita kembalikan kata Malik yang ada pada ayat tersebut dengan istilah Maliki yaumiddin pada surah 1 al-Fatihah ayat ke 3 yang artinya Penguasa hari pembalasan, maka bisa jadi yang dimaksud dengan kata Malik dalam surah az-Zukhruf ayat 77 merujuk pada tugas sang malaikat selaku penjaga neraka dan bukan sebagai nama diri dari sang malaikat itu sendiri. Apalagi kita juga bisa menemukan didalam al-Qur’an, penjaga neraka itu bukan hanya satu malaikat saja tetapi disebutkan secara jamak, misalnya:

    Dan orang-orang yang dineraka berkata kepada penjaga-penjaga Jahannam : “Mintalah kepada Tuhanmu agar Dia meringankan azab dari kami sehari saja.” - Qs. 40 al-Mu’min : 49
    Yang untuknya ada sembilan belas penjaga Dan Kami tidak menjadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat ! Dan Kami tidak menjadikan bilangan mereka melainkan sebagai ujian bagi orang yang kafir ! - Qs. 74 al-Muddatsir : 31
    Sementara istilah Zabaniah dalam surah al-Alaq ayat 18 memang sebagian besar ditafsirkan sebagai nama diri dari malaikat yang diancamkan Allah bagi mereka yang menghalangi seseorang melakukan Sholat [7] , akan tetapi A. Hassan dalam Tafsir al-Furqonnya menterjemahkan istilah Zabaniah pada ayat tersebut sebagai Tentara Tuhan yang gagah [8] .
    Secara umum, al-Qur’an memberikan informasi kepada kita bahwa para malaikat itu memang memiliki otoritas tertentu yang sudah diberikan oleh Allah terhadap diri manusia. Misalnya ada malaikat-malaikat yang diberi wewenang untuk mencabut nyawa (Lihat Qs. 32 as-Sajdah : 11), malaikat-malaikat yang merekam atau mencatat semua perbuatan (Lihat Qs. 43 az-Zukhruf : 80 dan Qs. 50 Qaf : 17), Malaikat-malaikat yang bertugas membantu Nabi dalam peperangan (Lihat Qs. 3 Ali Imron : 125 dan Qs. 9 at-Taubah : 26) dan ada pula malaikat yang diberi otoritas sebagai pelindung (Lihat Qs. 6 al-An’am : 61) dan sebagainya, akan tetapi sekali lagi, al-Qur’an tidak menjelaskan secara detil mengenai nama-nama dan jumlah mereka keseluruhan kecuali Jibril dan Mikail.

    Siapa yang menjadi musuh Allah, Malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang-orang yang kafir - Qs. 2 al-Baqarah : 98
    Dalam sebuah riwayat Bukhari dari Anas diceritakan bahwa orang Yahudi bernama Abdullah bin Salam telah menganggap Jibril sebagai malaikat perang yang menjadi musuh manusia sementara dalam riwayat lain yang disampaikan oleh Ahmad, Tirmidzi dan Nasa’i dari Ibnu Abbas diceritakan bahwa orang Yahudi telah membandingkan kehebatan dan kekuasan antara malaikat Mikail dan Jibril (sumber: lihat Referensi no [7]) lalu ayat diatas turun sebagai teguran bagi mereka.
    Mengenai wujud dari malaikat itu sendiri al-Qur’an menjelaskan sebagai berikut :
    Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, masing-masing dua, tiga dan empat - Qs. 35 Fathir : 1
    Wujud malaikat rasanya mustahil dapat dilihat dengan mata telanjang, karena mata manusia (dengan unsur dasar tercipta dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk (Qs. 15 al-Hijr : 28)) tidak akan mampu melihat wujud dari malaikat yang asalnya terdiri dari cahaya bahkan Nabi Muhammad sendiri disebutkan secara jelas hanya mampu melihat wujud asli dari malaikat Jibril sebanyak dua kali (Lihat Qs. 53 an-Najm ayat 6 s/d 14)
    Kita bisa melihat wujud malaikat hanya apabila malaikat itu sendiri yang merubah wujudnya menjadi sesuatu yang bersifat materi seperti berwujud manusia sebagaimana yang sering terjadi dalam cerita-cerita al-Qur’an (Lihat misalnya Qs. 19 Maryam : 17 dan Qs. 15 al-Hijr : 51), untuk memastikan bahwa kita telah melihat malaikat yang sebenarnya didalam mimpi atau melalui ilmu-ilmu ghaib tertentu pun nyaris tidak bisa dijadikan sandaran, sebab ada tertulis didalam al-Kitab bahwa Iblis mampu menyamar menjadi malaikat (Lihat Perjanjian Baru : II Korintus 11:14).
    Dan terlepas dari sejauh mana kita meyakini pernyataan tersebut, setidaknya fenomena yang tertulis disana telah benar terjadi dalam kehidupan nyata. Masih ingatkah anda tentang kisah pimpinan Jemaah Salamullah bernama Lia Aminuddin yang mengaku dirinya didatangi oleh malaikat Jibril ? -Konon sebelum mengaku sebagai Jibril, makhluk tersebut mengaku bernama Habib al-Huda, yaitu nama Jin yang dipercaya pernah mendampingi Nabi Muhammad
    Konon lagi menurutnya, kedatangan Jibril itu untuk menobatkan dirinya sebagai replika dari Maryam, ibunda Nabi Isa al-Masih yang tidak lain mewujud pada diri anaknya sendiri bernama Ahmad Mukti [9].
    Bahkan masih menurut Lia Aminuddin juga, arwah Nabi Muhammad sendiri memberikan restu kepada beliau saat melakukan sholat didekat makamnya dimasjid Nabawi Madinah dengan mengklaim bahwa tidak mungkin Iblis mampu masuk kedalam kota Madinah apalagi berada didekat makam sang Nabi.
    Disinilah makanya menurut saya Allah sudah mewajibkan agar orang-orang yang beriman itu harus punya ilmu dan mau menggali agamanya secara lebih mendalam, segala sesuatu itu dikaji dengan akal dan pikiran yang wajar, jika tidak ya begini inilah kejadiannya.
    Apa istimewanya kuburan Nabi ...? hanya orang yang menyukai hal-hal klenik dan mistis saja menganggapnya keramat dan memberikan berkah dan itu semua sudah masuk dalam kategori syirik atau penyekutuan Tuhan meski secara halus. Jika memang mau hormat kepada Nabi ya ikuti ajarannya, cintai keluarganya, bershalawatlah untuknya bukan mengagungkan kuburannya.
    Jangankan Iblis, seorang Yazid pun yang notabene manusia biasa, dengan pasukan perangnya mampu mengobrak-abrik kota Madinah dihari-hari pembantaian Imam Husein.
    Karenanya tidak salah jika pada bulan Desember 1997 yang lalu, MUI (Majelis Ulama Indonesia) secara resmi memberikan fatwa sesat dan menolak keabsahan ajaran Jemaah Salamullah.

    Referensi :
    -----------
    [1]petruspaulus@waltdisney.com, "PDMPKK St. Petrus Paulus" : Warta Petrus Paulus Edisi III April-Mei 1998 yang dikirim pada milis paroki@parokinet.org, tanggal 06 April 1998
    [2]Encyclopedia Britannica Deluxe Edition 2004 CD
    [3]J.F. Kasenda Software Alkitab dalam Bahasa Indonesia versi 2.0a 25 September 1999 dengan versi alkitab yang aktif Bahasa sehari-hari, Terjemahan tersebut sedikit berbeda apabila versi alkitab yang aktif adalah Terjemahan Resmi yang ayatnya berbunyi : Sesungguhnya, hamba-hamba-Nya tidak dipercayai-Nya, malaikat-malaikat-Nya didapati-Nya tersesat
    [4]Drs. Abu Baiquni, Dra. Arni Fauziana, Kamus Istilah Agama Islam, Penerbit Arkola, Surabaya, 1995, hal. 16
    [5]Dja’far Amir, Ilmu Tauhid, Penerbit AB. Sitti Sjamsijah, Solo, 1965, hal. 39
    [6]Dalimi Lubis, Alam Barzakh (Alam Kubur), Ghalia Indonesia, 1981, hal. 188
    [7]K.H. Qamaruddin Shaleh, H.A.A. Dahlan, Drs. M.D. Dahlan Asbabun Nuzul Latar belakang historis turunnya ayat-ayat alQur’an cetakan ke-2 Penerbit CV. Diponegoro Bandung 1975
    [8]A. Hassan, Tafsir al-Furqon, Pustaka Tamaam, Bangil, 1986, hal. 1219
    [9]Majalah Gatra, Nomor 42/IV, Imam Mahdi, Maryam, dan Jibril, Menyatu Dalam Tubuh Lia Aminuddin, 5 September 1998

    Wassalam,

    ARASY ALLAH


    ARASY ALLAH
    Assalamu'alaykum Wr. Wb.
    Arasy adalah singgasana Allah, apa maksudnya ?
    Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy
    - Qs. 7 al-A’raf : 54
    Telah terjadi perbedaan pandangan antara ulama tradisional dengan ulama-ulama kontemporer dan modern dalam menafsirkan istilah 'Arsy ini. Dimana ulama tradisional lebih suka memahami ‘Arsy sebagai suatu singgasana dimana dari singgasana-Nya inilah Tuhan mengendalikan kekuasaan-Nya atas makhluk-makhluk-Nya, namun ulama-ulama tersebut juga lebih suka untuk tidak melakukan pembahasan lebih jauh mengenainya dan hanya mencukupkan urusannya kepada iman dan itu menjadi rahasia ALLAH.
    Sejumlah ulama lain yang lebih moderat menolak penafsiran ‘Arasy seperti yang telah disebutkan tadi karena menurut mereka ALLAH tidak membutuhkan tempat, ruangan dan juga tidak terikat dengan waktu. Jika dikatakan bahwa ALLAH duduk diatas 'Arsy maka berarti ALLAH memiliki wujud yang sama seperti makhluk-Nya yang memerlukan tempat tinggal dan tempat bernaung, padahal ALLAH Maha Suci dan Maha Mulia dari semua itu !
    Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya
    - Qs. 112 al-Ikhlas : 4
    Lebih bijak jika kita mengadakan pendekatan penafsiran istilah ‘Arsy sebagai tempat dimana ALLAH mempertunjukkan kekuasaan-Nya kepada semua hamba-hambaNya, dan itulah alam semesta yang terbentang luas dihadapan kita. Semua isi alam ini, termasuk benda-benda angkasa seperti bumi, bulan, matahari, planet-planet, komet dan apa saja yang ada diantara keduanya merupakan perwujudan dari singgasana Tuhan.
    Adalah ‘Arsy-Nya berada diatas air
    - Qs. 11 Huud : 7
    Dari ilmu pengetahuan modern kita bisa mengetahui bahwa angkasa raya tidaklah kosong hitam saja seperti yang kita lihat dimalam hari, beberapa hasil observasi sejumlah astronom telah mendeteksi adanya bahan jernih yang terbuat dari 99 persen gas (rata-rata Hidrogen dan Helium) dan 1 persen partikel berukuran debu yang memiliki komposisi mirip dengan senyawa silikon, oksida besi, kristal es dan sejumlah kumpulan molekul lain termasuk molekul organik yang mengisi nebula maupun jarak antar bintang[1].
    Bahkan Nazwar Syamsu[2] lebih condong menterjemahkan istilah Alma (biasanya selalu diterjemahkan sebagai air dalam bahasa Indonesia) pada surah 11 ayat 7 diatas sebagai Hydrogen itu sendiri, mengingat Hydrogen adalah atom asal dan beliau mengkaitkannya dengan istilah Dukhan (biasa diterjemahkan sebagai asap) sebagai sumber penciptaan alam semesta seperti yang disitir dalam Surah Fushshilat : 11.
    Terlepas dari semuanya, mungkin ini juga alasannya kenapa Tuhan begitu gigih memerintahkan kepada manusia untuk mempelajari ilmu tentang alam semesta sembari tidak melupakan tasbih kepada-Nya, baik tasbih dalam arti berdzikir lisan mengucap puja dan puji seperti para Malaikat ataupun bertasbih dalam pengertian sikap tunduk dan patuh serta sadar akan kekecilan diri dihadapan Yang Kuasa sebagaimana tunduknya alam semesta dan seperti tunduknya burung-burung dan gunung.
    Para Malaikat yang di sisi-Nya, mereka tidak punya rasa angkuh untuk mengabdi kepada-Nya dan tidak merasa letih,
    mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. - Qs. 21 al-anbiyaa : 19 - 20
    Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya - Qs. 17 al-israa : 44
    Gunung-gunung dan burung-burung yang bertasbih - Qs. 21 al-anbiyaa : 79
    Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat seperti kamu - Qs. 6 al-an’aam : 38
    Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi - Qs. 3 ali Imron : 191
    Secara bijaksana kita juga bisa melihat persamaan penafsiran istilah ‘Arasy ini sebagai kata kiasan dengan mempersamakannya dengan kata kias pada penafsiran istilah Wajah ALLAH, Tangan-Nya, Kursi-Nya ataupun Betis sebagaimana terdapat dalam ayat-ayat berikut :
    Dan adalah kepunyaan Allah Timur dan Barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah Wajah Allah - Qs. 2 al-Baqarah : 115
    Maka Maha Suci Dia yang ditangan-Nya kekuasaan atas semuanya - Qs. 36 Yaasin : 83
    Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan - Qs. 55 ar-Rahman : 27
    Kursi Allah meliputi langit dan bumi. - Qs. 2 al-Baqarah: 255
    Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud
    - QS. 68 al-Qalam : 42

    SHALAT REBO WEKASAN




    Bahasan tentang itu memang banyak berkembang dan beredar. berkanaan dengan rebo wekasan, persatuan masjid indonesia pernah mengirim edaran ttg dibolehkannya melakukan. ada beberapa alasan kenapa hal ini boleh.

    1. ada keterangan jelas tentang siapa orang arif billah dan mukasyafah yang menceritakan ttg     prihal turunnya bala' pada hari rabu terakhir bln safar (nama menyusul, lali soale, ono dek syarahe hikam).

    2. hal ini berhubungan dengan iman kepada sifat Jaiz Allah, terserah Allah benar2 menurunkan bala' atau tdk, yang pasti manag dulu ttg bab iman terhadap sifat Allah. sebab iman kepada Sifat Allah hukumnya wajib 'ain (aqoid khomsin)

    3. shalat yang dimaksud BUKAN SHOLAT REBO WEKASAN, tetapi SHOLAT MUTLAK yg hukumnya boleh dalam ajaran Islam.

    4. tentang kaifiyah surat apa yang dibaca dan berapa kali, selama itu al-Qur'an sah menurut hukum Fikih.

    5.dan yang paling penting niat sholat ini tetap LILLAHI TA'ALA.



     

    iklan bawah 630x30

    Copyright © 2014. Pustaka Islam - All Rights Reserved | Template By Maskolis and Panjz Online | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger