Headlines News:

    Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya

    KH Abdusshomad Buchori


    Manusia merupakan makhluk yang mempunyai kedudukan tertinggi dan terhormat. Makluk yang sempurna dan istimewa dibanding makhluk lain di dunia ini. Pertama, karena manusia mempunyai fisik dan bentuk terbaik. Struktur organ-organnya mempunyai kesempurnaan. (QS At Tiin : 4). 

    Kedua, manusia mempunyai jiwa dan rohani. Dengan jiwa dan rohani ini manusia mempunyai akal, rasio, perasaan, kemauan, nafsu dan mempunyai budaya. Manusia bisa berkembang, bisa maju karena mempunyai keistimewaan-keistimewaan itu. Dalam mengembangkan rasionya manusia diberi landasan yakni agama. Maka hendaknya apapun pengembangannya, agama harus dugunakan sebagai pedoman, agar pemikirannya tidak keluar dari dasar-dasar agama yang tertuang dalam Al-Qur’an dan As Sunnah. Untuk itu, sarjana-sarjana muslim hendaknya dalam mengkaji dan meneliti suatu keilmuan dilandasi agama, dengan mengutip Al-Qur’an, As Sunnah atau ilmuwan-ilmuwan muslim, agar pemikirannya tidak sekuler. Karena sekarang sudah menjadi trend, banyak sarjana-sarjana muslim yang merasa bangga kalau mereka mengutip pendapat-pendapat orang barat, daripada mengutip ayat-ayat Al-Qur’an. 

    Teori-teori kenegaraan yang ada sekarang ini tidak akan bisa mengalahkan konsep Islam dalam surah al A’raf : 96. Maknanya : Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. 

    Seharusnya, ayat ini yang harus dikaji, didiskusikan oleh negarawan, legislative, eksekutif dan semua yang terlibat dalam mengatur negara ini. Kalau ayat ini yang menjadi dasar pemikiran mereka yang bertanggung jawab terhadap negara ini, pasti kesejahteraan dan keadilan sosial akan terwujud. Tidak seperti sekarang ini yang carut marut tidak karuan. Malah justeru ajaran Islam yang mulia ini, dibentur-benturkan, dianaktirikan, bahkan berusaha dihilangkan. Kita saksikan ditelevisi-televisi, para ahli agama diundang dalam debat, lalu diundanglah pemikir-pemikir liberal dan sekuler. Karena orang sekuler yang diundang lebih banyak, ulama’ yang mempertahankan kebenaran al-Qur’an itu seakan kalah. Karena moderator juga berperan, sehingga jawaban-jawaban yang baik dari ulama dipotong, sedang yang mempunyai misi itu diberi keleluasaan menjawab seakan-akan kebenaran ditangannya. Dengan cara-cara seperti inilah Islam dibenturkan dan dengan cara seperti inilah mereka berusaha mempengaruhi masyarakat untuk menjauhkan dari ajaran Islam. Pesan yang ingin dilontarkan adalah “Konsep liberal dan sekuler lebih baik dari pada konsep Islam”. Inilah misi mereka, menjauhkan umat Islam dari ajarannya. Dan tampaknya mereka berhasil, karena mereka menguasai media informasi. Tetapi yakinlah bahwa Islam adalah ya’luu walaa yu’laa alaih (Islam adalah tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi). 

    Seperti yang sekarang terjadi. Ada empat orang yang digugat dalam kasus Syi’ah. Pertama, gubernur Jatim Peraturan Gubernur No 55 tahun 2012, yang isinya pembinaan kegiatan keagamaan dan mengawasi aliran sesat di Jatim. Di dalam klausul dalam peraturan in, pasa 5 disebutkan bahwa untuk menentukan kriteria sesat itu adalah berdasarkan kriteria yang dibuat dan disepakat oleh MUI Jatim, untuk agama Islam, dan untuk agama lain, adalah dari masing-masing majlis agama tersebut. Ini dituntut orang dari Bandung yang bernama Teguh Sugiarto, mengatasnamakan perorangan yang menuntut peraturan itu dicabut. Kemudian tuntutan kedua kepada Ketua Majelis Ulama Jatim, untuk membatalkan fatwa MUI tentang Syiah. Karena kami menandatangani bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asy’ariyah adalah termasuk kelompok yang sesat dan menyesatkan. Kami telah studi tentang Syiah Imamiyah Itsna Asy’ariyah tidak sesuai untuk diterapkan di Indonesia, dan akan mengancam NKRI. Tidak ada negara yang begitu dimasuki mereka lalu aman. Misalnya di Libanon, Irak, Suriyah dll. 

    Ajaran Syiah terdapat perbedaan yang mendasar dengan ajaran ahlus sunnah wal jamaah. Misalnya di antaranya mengajarkan bahkan menganjurkan nikah muth’ah (kawin kontrak) yang sangat berpotensi digunakan untuk melegitimasi praktik perzinaan. Padahal di Jawa Timur khususnya di Surabaya ini, kami bersama pemerintah berusaha maksimal bagaimana tempat postisusi itu ditutup. Ini suatu gerakan yang luar biasa. Tetapi orang yang berfaham Liberal mengatakan itu melanggar HAM. Karena mereka mencari uang, mencari ekonomi sehingga nafkahnya tetap terjaga, dengan membuat sensasi, membela siapa saja walaupun itu salah. 

    Ketiga adalah KH Sahal Mahfudh. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, dan ketua Rais Suriyah NU. Dan yang keempat, adalah presiden RI. Begitu tanggal 14 Mei 2013 sidang pertama dimulai, kami sudah membentuk tim. Tetapi mereka tidak hadir.. Ini saya kira suatu tindakan yang luar biasa. Suatu keberanian yang luar biasa, dari kelompok minoritas. Padahal bicara toleransi jangan hanya yang kelompok besar yang dituduh, sebab ketika kelompok kecil memaksakan pendapatnya itu juga melanggar HAM. Dan itu tirani kelompok kecil kepada yang besar. 

    Untuk itu, umat Islam harus kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasul SAW. dan banyak fatwa-fatwa dari umat Islam sebagai kazanah untuk membangun diri, dan membangun masyarakat, bangsa dan negara.


    Amalan-Amalan Penguat Iman

    Prof DR H Saidun Fiddaroini, MA

     
    Kita diingatkan untuk selalu meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Peringatan itu tidak lain adalah mengajak untuk meningkatkan keimanan kita, karena taqwa itu sendiri adalah buah dari proses penguatan iman. Segala kewajiban ibadah, yang tampaknya berat, justeru akan dapat dilaksanakan dengan ringan, dengan penuh semangat, dengan tidak malas, kalau semua itu dilaksanakan dengan dasar iman yang kuat. Kuatnya iman, akan melahirkan nikmatnya ibadah. Dan nikmatnya ibadah, terasa pada saat melaksanakannya serasa ingin berlama-lama dalam beribadah, khusyu’ dan penuh kedamaian, ridho dan diridhoi oleh Allah SWT. Sebagaimana kita ketahui, bahwa segala sesuatu yang dikerjakan dengan setengah-setengah, dan malas, maka tidak akan membuahkan hasil yang baik. Demikian juga ibadah yang didasari oleh iman yang lemah, akan terasa berat untuk melaksanakannya. Seperti membawa beban, maka dia ingin segera bebas dari beban itu. Setiap kali ingin beribadah, selalu ingin cepat-cepat selesai. Seperti melaksanakan shalat Tarawih, yang pada umumnya dilaksanakan dengan terburu-buru. Tidak ada kekhusyu’an, apalagi kenikmatan. 

    Mungkin saja setiap hari, terasa dalam hidup ini menanggung beban iman yang lemah. Demikian itu dimulai sejak diajari Islam, tanpa adanya peningkatan keimanan, memang akan terasa capek membawa iman yang lemah. Merasakan hidup di dunia, serasa dipenjara, merasakan banyak larangan. Sampai-sampai kadang keluar ucapan : “ Enak menjadi orang yang tidak beriman, karena tidak dibebani dengan kewajiban-kewajiban, dan tidak ada larangan-larangan”. Demikian inilah keadaan orang yang imannya lemah, mudah digoda dengan maksiyat, kalau maksiyat itu dibiarkan, jalan dan diterus-teruskan, akan semakin jauh tersesat. 

    Allah SWT menjelaskan tentang iman seperti ini sebagaimana firmanNya dalam surah An Nisa; :137. Maknanya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kamudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, Maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus. 

    Oleh karena itu, wajiblah bagi kita untuk selalu menjaga dan terus berusaha meningkatkan keimanan, sehingga iman kita menjadi kuat. Pada dasarnya, keimanan yang ada dalam dada kita ini adalah lanjutan kesaksian kita sebelum kita dilahirkan ke dunia ini. Allah SWT menjelaskan tentang hal ini dalam surah Al A’raf : 172. Maknanya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", 

    Kita dilahirkan di dunia ini, diberikan kepada kita fitrah yang sesuai dengan ajaran Islam, antara lain kemudahan untuk meningkatkan kekuatan iman, dan Allah SWT memberikan amalan-amalan untuk meningkatkan keimanan tersebut untuk dilaksanakan agar menjadi orang yang bertaqwa : 

    Pertama, berdoa memohon petunjuk kepada Allah SWT, agar mendapat hidayah khususnya dalam rangka menguatkan iman. (QS Muhammad :17). Maknanya :Dan oraang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan Balasan ketaqwaannya. 

    Tambahan petunjuk atau hidayah Allah itu mendatangkan ketaqwaan melalui proses kekuatan iman. Bisa juga dengan doa singkat sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW ketika ragu-ragu dalam mengerjakan sesuatu, maka ucapkanlah aamantu billah wa rasuulih (aku beriman kepada Allah dan RasulNya). Begitu juga berdoa di akhir menjelang salam yakni : Yaa muqallibal quluub tsabbit qalbii ‘alad diinik ( Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku, pada agamaMu). Jadi, langkah awal adalah langsung memohon kepada Allah, agar mendapat hidayahNya. 

    Kedua, berdzikir. Mengingat dan menyebut Asma Allah SWT. Dengan berdzikir akan terjadi ketenteraman dalam hati. (QS Ar Ra’du : 28). Maknanya : (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. Dengan ketenteraman itu, Allah SWT menambahkan iman. (Al Fath : 4). 

    Ketiga, Istiqamah. Berusaha secara sadar menjadi seorang yang beriman dan menerapkan iman dalam wujud nyata. Yakni mengamalkan perintah dan anjuran Rasulullah SAW. baik yang wajib maupun yang sunnah. (QS Al Ahqaaf : 13). 

    Kekhawatiran, ketakutan dan duka cita akan dihilangkan oleh Allah SWT, diganti dengan ketenangan jiwa. Tenangnya jiwa merupakan awal meningkatnya keimanan yang diberikan oleh Allah ke dalam hati orang mukmin. 

    Keempat, bersyukur. Bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat keimanan. Karena keimanan merupakan kenikmatan yang amat agung. Pastilah dengan bersyukur itu, iman kita bertambah. (QS Ibrahim : 7). Maknanya : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".


    Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup

    DR H Haris Hasanuddin, MAg


    Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW pernah bermunajat kepada Allah SWT, memohon tiga hal ; pertama, memohon agar umat beliau tidak diberikan hukuman langsung, sebagaimana umat-umat nabi terdahulu, semisal hukuman kepada umat Nabi Nuh a.s. Kedua, memohon agar umat beliau tidak menemui masa paceklik (masa kekurangan pangan yang berkepanjangan), sehingga akan mengakibatkan binasanya umat beliau. Ketiga, beliau memohon umatnya agar tidak menjadi umat yang selalu berkeluh kesah dalam hidupnya. Dari ketiga panjatan doa Rasulullah SAW tersebut, ternyata masih ada satu di antaranya masih ditangguhkan oleh Allah SWT. Yakni permohonan beliau agar umatnya tidak berkeluh kesah. Bukti masih ditangguhkannya doa Rasulullah SAW ini, masih banyaknya di antara kita berceloteh dalam hati :”Ya Allah, hidupku kok masih seperti ini..!, kenapa jalan yang Engkau berikan seperti ini? “, Ada juga yang mengatakan dalam hati : “Ya Allah, kenapa aku tidak seperti mereka?, kurang apa aku ini? ”. Walaupun tidak dengan ucapan, secara tidak sadar mungkin kita pernah berceloteh seperti itu. 

    Rasa keluh kesah pada diri manusia bisa menimbulkan dua energi yang berbeda. Yakni energy positif dan negative. Kalau keluh kesah pada diri kita memunculkan energy negative, maka dalam hidupnya selalu diliputi oleh keinginan untuk mengikuti hawa nafsunya. Menggunting dalam lipatan, menyalip dalam tikungan, dan semua itu sangat membahayakan lingkungannya. Orang seperti ini, kalau dia mempunyai ilmu, seperti ilmu katak, tatkala sang katak ingin memunculkan diri ke permukaan air, maka sang katak tidak akan pernah tahu apakah di sampingnya ada temannya atau tidak, sehingga yang dia lakukan, sepak kanan, sepak kiri, sikut kanan, sikut kiri, yang penting bagaimana dirinya bisa berada di atas. Allah SWT telah memperingatkan kepada kita dalam surah Al Baqarah : 216. Maknanya : Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. 

    Sifat keluh kesah, merupakan sifat fithrah, namun janganlah dengan sifat ini,menghantarkan manusia ke dalam keputusasaan. ( QS Yusuf : 87). Maknanya : Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". 

    Keluh kesah dalam hidup, memang sulit kita hindari. (Q.S Al Ma’aarij : 19-22). Maknanya : 19. Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.20. apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,21. dan apabila ia mendapat kebaikan ia Amat kikir,22. kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. 

    Sifat keluh kesah pada diri manusia, sesungguhnya akan dapat terobati, dan terkurangi, bahkan energy negative dari sifat keluh kesah, bisa kita rubah menjadi energy positif, manakala kita melakukan 8 hal yang ditawarkan dalam Al Qur’an. 

    Pertama, orang yang selalu melanggengkan shalat. Dalam kondisi dan situasi apapun, mereka selalu melakukan shalat. (QS Al Ma’aarij : 23). Maknanya : Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, 

    Kedua, orang yang menyisihkan sebagian harta yang dia miliki, untuk ditasarrufkan kepada yang berhak menerima. (QS Al Ma’aarij : 24-25). Maknanya : Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, 25. bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), 

    Orang-orang yang selalu berhubungan secara verikal kepada Allah, dan senantiasa peduli terhadap permasalahan sosial inilah yang akan terhindar dari keluh kesah. Sehingga, kesalehan ritual harus diimbangi dengan kesalehan sosial. 

    Ketiga, orang yang senantiasa percaya terhadap hari pembalasan. (QS Al Ma’aarij : 26). Maknanya : Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, 

    Orang yang pada dirinya ada rasa kepercayaan terhadap hari akhir, maka pada dirinya tidak ada rasa dendam, rasa iri dengki, walaupun didholimi oleh orang lain, karena dia yakin, bahwa akan ada hari pembalasan di mana orang yang baik akan dibalas dengan kebaikan begitu juga sebaliknya. 

    Keempat, orang-orang yang tidak pernah takut, kecuali kepada Allah SWT. (QS Al Ma’aarij : 27). Maknanya : Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Orang yang berkeyakinan dan merasa bahwa yang mengawasi dirinya adalah Allah SWT, terhadap segenap tingkah lakunya, bukan polisi, bukan jaksa, bukan atasan, bukan orang lain, maka orang yang demikian ini, tergolong orang yang dalam hidupnya terhindar dari keluh kesah. 

    Kelima, orang-orang yang senantiasa dalam hidupnya menjaga kemaluannya. (QS Al Ma’aarij : 29-30). Maknanya : 29. dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, 30. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela 

    Banyak di antara kita yang terpeleset kepada hal satu ini. Karena tidak dapat menjaga kemaluannya, hanya mengejar kenikmatan sesaat, maka kemudian mereka menjadi orang yang terbuang untuk selama-lamanya. 

    Keenam, orang-orang yang selalu menjaga amanah yang diberikan kepada dirinya. (QS Al Ma’aarij : 32). Maknanya : Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. 

    Ketujuh, orang yang selalu bersaksi dengan adil. (QS Al Ma’aarij : 33). Maknanya : Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. 

    Kedelapan, orang yang dalam hidupnya selalu dihiasi dengan sabar dan shalat. (QS Al Baqarah : 45). Maknanya : Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', 

    Sabar dan salat ini adalah merupakan sebuah kunci keberhasilan hidup di dunia. Rasulullah SAW mengajari kita untuk tidak mengadu permasalahan hidup ini kepada orang lain, tetapi mengadulah seluruh permasalahan kita dengan kesabaran kepada Allah SWT. 

    Ada suatu riwayat. Saat Nabi Musa as beserta umatnya ingin menyeberang lautan, maka Nabi Musa menyampaikan :”Wahai kaumku, janganlah kamu minta pertolongan kepada selain Allah”. Ajaran ini diadopsi oleh Rasulullah SAW disampaikan kepada sahabatnya: “Wahai para sahabatku, tatkala kamu dalam hidup menemui kegalauan, kegagalan, janganlah sekali-kali mengadu kepada orang lain, tetapi mengadulah kepada Allah SWT”. Kemudian Rasulullah SAW menyampaikan sebuah hadisnya : Allahumma lakal hamdu, wailaika mustaka, wa anta musta’aan walaa haulaa walaa quwwata illa billaahil ‘aliyyil adhiim (Segala puji bagi Allah, dan sungguh Engkau adalah Dzat sebaik-baik tempat mengadu. Engkau sebaik-baik Dzat untuk dimintai pertolongan, dan tidak ada daya kekuatan, kecuali atas pertolonganMu). 

    Kalau delapan hal ini kita aplikasikan, kita amalkan dalam hidup di dunia ini, insyaallah kita akan terhindar dari sifat keluh kesah terlebih putus asa dalam hidup, sehingga akan menemui kedamaian dalam hidup ini. 

    Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi

    Drs. H Ahmad Sya’roni, M.Si 


    Allah berfirman dalam surah An Nahl : 125 yang maknanya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. 

    Ayat ini dimulai dengan fi’il amar ud’uu” (serulah). Dalam ilmu ushul fiqh dijelaskan bahwa al ashlu fil amri lil wujub (bahwa pada asalnya perintah itu adalah sesuatu yang wajib). Para mufassiriin dan jumhur ulama’ sepakat bahwa dakwah merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam. Dan kalau dikaitkan dengan QS Ali Imran : 104. Maknanya : Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. 

    Walaupun para mufassir mengatakan bahwa min di atas adalah ba’diyah, namun Jumhur ulama’ menyatakan bahwa kewajiban dakwah bukan fardhu kifayah (kewajiban bersama), namun fardhu ‘ain (kewajiban individu). Sehingga kita tidak terpancang, bahwa dakwah itu adalah pidato, orasi, ceramah, taushiyah, atau menyampaikan sesuatu di atas mimbar, namun dakwah bisa dilakukan dalam bentuk apapun dan di manapun, yang penting materinya adalah mengajak orang lain untuk menuju kebenaran yang sebenarnya. 

    Salah satu agar dakwah berjalan dengan baik pertama, dakwah melalui kekuasaan. Imam Al Ghozali mengatakan dalam bukunya Ihya’ Ulumuddin, segenggam kekuasaan, lebih efektif dari sekeranjang kebijakan. Bung Karno, karena keuasaanya beliau bisa membuat masjid sebesar Istiqlal, di zaman yang kemampuan masyarakat belum maksimal. Soeharto dengan kekuasaannya bisa menginstruksikan kepada kepala daerah untuk mendirikan beberapa masjid yang namanya masjid pancasila. Seorang kapolda di Jawa Timur, mewajibkan kepada jajaran bawahannya untuk membaca Al Qur’an sebelum apel pagi. Inilah kekuasaan. Sekarang gubernur Jawa Timur bekerjasama dengan berbagai ormas dan intansi lain, menutup tempat pelacuran, dan berangsur-angsur diikuti oleh daerah-daerah lain. Inilah kekuasaan. Dengan kekuasaan bisa digunakan untuk kebaikan, namun sebaliknya kekuasaan bisa digunakan untuk kemungkaran. Dan masing-masing individu mempunyai kekuasaan, baik itu skala kecil maupun besar. Maka, mari kita manfaatkan kekuasaan itu dengan baik untuk kepentingan dakwah, amar ma’ruf dan nahi mungkar. Dengan demikian maka Islam akan semakin tersebar. 

    Kedua, dakwah dengan media. Misalnya media televisi merupakan media informasi sekaligus media hiburan yang dapat dijumpai dimana-mana, baik di rumah kecil maupun dirumah mewah,baik di warung – warung kopi maupun di restauran-restauran.Televisi merupakan media informasi yang bersifat netral,seperti pistol.Jika pistol ditangan orang jahat,maka pistol akan digunakan untuk menembak orang yang tidak bersalah.Namun jika pistol ditangan polisi yang beriman dan bijak,maka pistol itu akan digunakan untuk melindungi orang-orang yang berada pada pihak yang benar. 

    Ketiga, dakwah dengan keteladanan. Islam pada awal periodenya telah berhasil menggentarkan kehidupan-kehidupan yang tanpa nilai serta tanpa norma, yang biasa disebut jaman jahiliyah. Hal ini sesuai dengan risalah yang diemban oleh Rasulllah SAW, yakni menyempurnakan akhlak manusia, sehingga tercipta sebuah kehidupan yang teratur, hasil ini juga sesuai dengan fitrah manusia yang selalu mendambakan sebuah kedamaian dan ketenteraman dalam menjalankan aktivitas kehidupannya.


    Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun

    Prof. DR H. Ali Maschan Moesa, MSi


    Sosok manusia adalah makhluk yang penuh dengan kekurangan. Secara fisik memang Allah mengatakan fi ahsani taqwim (bentuk yang terbaik), bahkan ada yang memberi penafsiran bukan hanya secara fisik yang membedakan penafsiran fi ahsani taqwim dengan kejadian yang baik itu, karena manusia diberi akal oleh Allah SWT, di samping potensi-potensi yang lain. Tetapi apapun manusia mempunyai kekurangan dan kelemahan, bisa berbuat khilaf, bisa berbuat baik, tetapi terkadang juga semangat berbuat yang jelek yang prosentasinya hampir sama. Maka Allah menyatakan fa alhamahaa fujuurahaa wataqwaahaa. Jadi manusia memiliki dua kecenderungan yang relatif sama yaitu fujur (berbuat dosa yang jelek, yang tidak professional, yang kontra prodiktif, yang merugikan orang lain ataupun kepada dirinya sendiri). Tetapi juga kadang-kadang manusia semangat berbuat baik (wataqwaahaa ). Inilah yang menarik bahwa kadang-kadang orang berbuat baik kadang-kadang berbuat jelek, itu akhirnya tergantung lingkungannya. Dan kalaupun sampai manusia berbuat dengan kekurangan, di sinilah Allah memberikan contoh doa kepada kita (Ya Allah janganlah engkau menghukum kepada kami, kalau kami salah atau lupa). Bahkan kalau memang beban hidup ini makin berat, dan kita sudah tidak mampu, Allah juga memberi do’a kepada kita (Ya Allah janganlah engkau memberi beban, diluar kemampuan yang kami memang tidak kuat untuk menerimanya atau melakukannya). 

    Di sinilah secara horizontal manusia ada yang diberi kemampuan, ada yang tidak, baik kemampuan ilmu, kemampuan harta, kemampuan yang bersifat fisik maupun psikis. Di sebuah propinsi ada sebuah penelitian hasil sensus kesehatan nasional tahun 1998 menyebutkan bahwa karena penduduknya sakit terus, provinsi tersebut mengeluarkan harta untuk berobat sampai 90 milyard. Padahal anggaran pemerintah pusat untuk provinsi tersebut untuk kesehatan hanya sekitar 35 milyard, ternyata 1/3 dari pada PAD (Penghasilan Asli Daerah) tersebut. Ini menggambarkan betapa sering kali kalau orang itu tidak sehat akan menghabiskan uang banyak. Belum pengaruhnya terhadap usia, bisa saja orang kalau tidak sadar dengan kesehatan usianya relatif pendek. Hal ini bisa dibuktikan mengapa orang Jepang dan negara-negara yang lebih maju yang memahami kesehatan, sadar kesehatan, mayoritas umurnya lebih panjang dibanding negara–negara yang sedang berkembang semacm Indonesia. Artinya kita harus kembali kapada Allah, kita harus berikhtiar karena Allah tidak akan merubah nasib seseorang, nasib suatu kelompok, kalau dia tidak berusaha. Jadi sehat itu tidak semata-mata, memang hal ini tidak lepas dari adanya taqdir Allah, tetapi manusia juga diberi hak untuk berusaha. 

    Karena Allah memberikan manusia kekurangan, kelemahan, maka dalam Islam ada konsep yang disebut dengan ta’awun (tolong menolong) bagi mereka yang dalam keadaan lemah. Harus ada tasamuh (toleran) dalam perbedaan pendapat, karena kualitas orang tidak sama, bahkan cara dan kualitas belajar agamanya tidak sama sehingga kadang pendapatnya tidak sama, nah di situlah kita juga harus toleran. Di samping itu, dalam Islam ada juga konsep tadlamun (saling melindungi). 

    Ada sebuah riwayat yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud, dia pernah marah mendengar khalifah yang ketiga Sayidina Utsman ketika di Mina pada saat menunaikan ibadah haji, beliau mengerjakan shalat tidak dijama’ dan tidak qashar, padahal menurut riwayat Nabi mengerjakan jamak qashar. Dia (Ibnu Mas’ud) semangat mendatangi Sayidina Utsman. Alhamdulillah, Sayidina Utsman waktu itu sembahyang dan Ibnu Mas’ud pun ikut sembahyang di belakangnya. Seperti biasa, Sayyidina Utsman sembahyang dengan tidak jamak dan tidak qashar. Ketika selesai para sahabat bertanya kepada Ibnu Ma’ud : Bukankah kamu tadi berniat ingin mengingatkan khalifah ?. Ibnu Mas’ud menjawab dengan singkat “ Bertengkar itu jelek”. Nah itulah sahabat-sahabat Nabi yang selalu memberi respon tentang keteladanan. Rasulullah sendiri memberi keteladanan. Saat itu setelah Dzuhur Rasulullah SAW memberangkatkan beberapa orang untuk datang ke kampung Bani Quraidlah untuk berdakwah. “ Berangkatlah kalian sekarang berdakwah ke Bani Quraidlah, pesan saya, jangan shalat Ashar sebelum sampai di Bani Quraidlah”. Namun ketika di tengah jalan dan belum sampai di kampung Bani Quaridlah, waktu Ashar akan habis, sehingga terjadilah perbedaan pendapat di antara mereka. Pendapat pertama, berargumentasi bahwa mereka harus shalat di perjalanan karena meyakini bahwa Rasul berpesan untuk tidak shalat di jalan itu kalau waktu Ashar masih ada. Tetapi pendapat separuh dari mereka tidak mereka tidak mau melakukan shalat di jalan karena yang dipegangi teks yang tersurat, Rasul kan menyatakan jangan sembahyang Ashar kalau belum sampai di kampung Quraidlah, terjadilah dua pendapat. Selesai berdakwah di kampung Quraidlah, rombongan ini pulang dang langsung menghadap Rasulullah SAW, dan mengadukan persoalan perbedaan pendapat yang dialami di perjalanan tersebut. Apa jawab Nabi ? Benar semua. Mengapa demikian? Karena Nabi kalau menjawab pertanyaan seseorang dilihat tingkat kemampuannya orang tersebut. Hinga beliau bersabda : Khatibu-an nas ‘ala qadri ‘uquulihim (Berbicaralah kepada manusia sesuai kemampuannya). 

    Jadi kalau berkata kepada masyarakat, dilihat dulu kemampuan ilmunya. Itulah yang pernah terjadi ketika seorang Arab dari desa ketika menghadap Nabi, tetapi masih di atas unta sudah berteriak memanggil Nabi : ”Hai Muhammad, Hai Muhammad, berilah pelajaran untuk saya”. Berkata seperti itu di hadapan seorang Nabi dalam keadaan masih di atas unta, hal ini tidak punya sopan-santun, sehingga Sayyidina Umar langsung menghunus pedang, sambil berkata : “Kamu di depan Nabi tidak sopan”. Tetapi apa reaksi Nabi? Beliau justeru mengingatkan Sayyidina Umar : ”Dia itu belum mendapatkan pelajaran akhlaq, Khatibu-an nas ‘ala qadri ‘uquulihim”. Itulah konsep Islam, kalau kita menjalankannya dengan baik, alangkah indahnya kehidupan bermasyarakat dan berbangsa dalam kontek nation state di Indonesia ini. 

    Dalam Islam ada konsep tasamuh, ukhuwah, tadlommun, apalagi sesama muslim yang mendapatkan kesulitan-kesulitan sebagaimana musibah yang akhir-akhir ini datang. Betapa besar penilaian dan apresiasi masyarakat terhadap musibah yang sampai hari ini makin besar. Ada yang sampai putus asa, sehingga untuk menghentikan musibah ini ia menghitung model klenik, kalau rumahnya menghadap ke timur, supaya selamat harus selamatan beras ketan (Jawa : ngetan). Kalau rumahnya menghadap ke barat harus ada kue kleponnya (Jawa : ngulon). Kalau menghadap ke selatan harus ada jenang gerendul (Jawa Ngidul). Itulah tingkatan dalam pengetahuan agama , bisa saja orang-orang yang punya keyakinan seperti ini memang belum ada penjelasan-penjelasan yang mencerahkan mereka. Itulah konsep tadlammun (melindungi) harus diterapakan bukan hanya memberi uang, paling tidak memberi pencerahan ilmu, pencerahan keyakinan, pencerahan terhadap keimanan. Hubungan ini adalah hubungan hablumminallah-hablummiannas (hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia) yang bisa dibedakan, tetapi tidak bisa dipisahkan. 

    Jangan sampai rutin bangun malam shalat lail, puasa setiap hari Senin Kamis, tetapi tetangga dalam keadaan sulit diam saja. Bahkan Rasulullah mengancam kalau ada orang di suatu malam perutnya dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya dalam keadaan lapar, dia tahu, namun tidak mau membantu Nabi menyatakan orang semacam ini haram masuk surga. mengapa ? Karena tidak ada ta’awun, dan tadlammun dengan sesama. 

    Suatu ketika ada seorang sahabat datang kepada Rasulullah SAW. Kemudian ditanya : ”Kamu tadi naik apa?, ”Biasa ya Rasul naik onta” Jawabnya. ”Di mana onta kamu?” tanya. ”Sudah saya lepas, hilang atau tidak hilang saya tawakkal saja atas takdir Allah ya Rasul, saya kembalikan kepada Allah” jawabnya. Apa komentar Nabi, ”Kamu keliru, kamu belum ikhtiar, kamu tali dulu, kemudian baru tawakkal kepada Allah”. Manusia diberi kebebasan oleh Allah free will (kebebasan berkeinginan) dan free action (kebebasan untuk beraksi) atau berbuat. Memang keputusan final ada di tangan Allah, tapi manusia wajib berikhtiar. 

    Mungkin kita makin sulit, tapi kalau dengan sadar dan berusaha terus tidak mengenal putus asa, maka Allah meyakinkan kita inna ma’al ‘usri yusraa, (setiap kesulitan pasti ada kemudahan-kemudahan). Mari kita berusaha merubah cara berfikir kita. Orang sekarang berfikirnya hanya final logic, yang penting berhasil, proses menjadi berhasil ini baik atau tidak, terkadang tidak kita pikirkan. Yang penting kita tebangi hutan selesai, yang penting saya dapat uang, tapi tidak memikirkan apa akibatnya. Minyak, batu bara, emas, perak, kita eksplorasi, tanpa ada pikiran bagaimana eksesnya, apa akibatnya kita tidak perhatikan, yang penting berhasil, itulah yang disebut berpikir logika final. Itulah mengapa dalam Islam ada konsep fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah. Tetapi kalau di dunia saja kita ngatur tidak professional, bagaimana kita mau ngatur urusan akhirat. Itu artinya apa? kalau kita ingin di akhirat baik, aturlah dunia dengan professional, jangan berfikir hati ini, kita berfikir untuk anak-anak keturunan kita juga.


    Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah

    Drs. H M Ihsan Yusuf, SH, M.Hum


    Aktifitas ibadah bisa dinilai berkualitas, jika memenuhi beberapa kriteria. Di antaranya adalah pertama, ibadah tersebut memenuhi syarat formal dan material. (QS Al Hasyr :7). 

    Baik urusan ubudiyah, muamalah, munakahah mawaris dll. Kalau sudah digariskan oleh Allah dan RasulNya,maka wajib dikerjakan, dan yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, maka tinggalkan. Misalnya dalam ibadah shalat. Perintah shalat digariskan oleh Allah SWT (QS. Al Baqarah : 43, An Nuur : 56 dll) aqiimushsholah (dirikanlah shalat). Sebelum shalat juga diperintahkan untuk berwudhu (QS Al Maidah : 6). Berwudhu inilah yang termasuk syarat formal yang dimaksud, dan masih banyak syarat formal yang lainnya. Syarat tersebut merujuk pada contoh Rasulullah SAW dalam melakukan shalat. Rasulullah SAW bersabda : Shalluu kamaa roaitumuunii ushollii (Shalatlah sebagaimana aku melakukan shalat). Begitu juga dalam shalat ada larangan. Misalnya janganlah mendekati shalat jika kamu sedang dalam keadaan mabuk. Pendek kata, dalam melakukan aktifitas ibadah ada syarat formal dan materialnya. Dan jika syarat ini bisa dipenuhi, maka pintu gerbang menuju kualitas ibadah akan tercapai. 

    Kedua, ibadah tersebut berisi, tidak kosong. Artinya ibadah tersebut berhasil guna. Betapa banyak, ibadah yang telah memenuhi syarat formal dan material, tetapi tidak ada isinya. Misalnya, kita baru saja melakukan puasa Ramadan sebulan penuh. Rasulullah SAW bersabda : Betapa banyak orang yang puasa, tetapi dia tidak mendapat apaapa dari puasanya itu kecuali hanya rasa lapar dan dahaga. Begitu juga ibadah shalat. Betapa banyak orang yang telah melakukan shalat, tetapi tidak mendapat apaapa kecuali capek. (QS Al Maa’uun : 45 ) maknanya : 4. Maka kecelakaanlah bagi orangorang yang shalat, 5. (yaitu) orangorang yang lalai dari shalatnya, 

    Bukan hanya shalat dan puasa, tetapi semua bentuk ibadah lain bisa bernilai kosong. Seperti shadaqah, bisa bernilai kosong. ( QS Al Baqarah : 264). Sehingga, jangan sampai jika kita mengandalkan banyakny ibadah yang telah kita lakukan di dunia ini untuk bekal di akhirat nanti, namun ternyata nilai dari ibadah itu kosong, sehingga sama dengan tidak membawa apaapa. 

    Ketiga, bentuk ibadah apapun, harus dikerjakan pada waktu yang telah ditentukan. Rasulullah SAW mengingatkan, jika nyawa sudah di tenggorokan, maka tidak akan diterima taubatnya. Maka, selagi masih ada waktu untuk melakukan ibadah, mari segera melakukan dengan baik, sesuai aturan formal dan material, serta berhasil guna. 

    Kenapa ibadah yang berkualitas harus dipertahankan? Karena ibadah yang berkualitas inilah yang akan dihitung dan dianggap oleh Allah. (QS Al Mulk : 2). Allah menggelar pengadilan di alam akhirat, untuk memperhitungkan amal ibadah kita selama di dunia ini. Dan akan diperlihatkan mana amalan yang berkualitas, mana yang bernilai kosong. Di tempat peradilan itulah akan tampak semuanya. Amal berkualitas, akan dapat memperberat timbangan kebajikan. Orang yang lebih berat amal kebajikannya akan masuk surga Allah sebagaimana yang telah dijanjikanNya, dan orang yang timbangan kebajikannya lebih ringan dari timbangan keburukannya, maka dia akan dimasukkan dalam neraka, yang juga telah dijanjikan olehNya pula. (QS Al Qari’ah : 6). Maknanya : 6. dan Adapun orangorang yang berat timbangan (kebaikan)nya,7. Maka Dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.8. dan Adapun orangorang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,9. Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. 

    Inilah perlunya amalan harus berkualitas, harus ada isinya dan tidak kosong. Jangan sampai banyak, tetapi isinya kosong, sehingga setelah ditimbang, ringan. 

    Apa upaya yang harus dilakukan, agar amal ibadah berkualitas, dan bisa dipertahankan secara terus menerus? Ada beberapa tips untuk bisa mempertahankan kualitas ibadah. Pertama, adanya niat. Setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. 

    Dari Umar bin alKhaththab r.a, beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Bahwa perbuatan-perbuatan itu tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang bergantung dengan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk dunia yang ingin ia perolehnya, atau untuk wanita yang ingin ia nikahinya, maka hijrahnya kepada apaapa yang ia berhijrah kepadanya". 

    Kedua, diamalkan dengan sekuat tenaga. Dengan perasaan dan jiwa yang utuh, penuh semangat. Rasulullah SAW bersabda : uthlubul hawaaija bi’izzatil anfus, liannal umuura, tajrii bil maqaadirihi (Raih semua keinginan anda dengan semangat yang tinggi, karena semua urusan bisa dicapai sesaui dengan kadarnya). 

    Ketiga, dilakukan dengan ikhlas. Sesuatu yang berat akan menjadi mudah, jika dilakukan dengan ikhlas. Innallaaha laa yaqbalul ‘amal illa kaana lahul khaalishon. ( Sungguh Allah tidak menerima amal, kecuali dilakukan dengan ikhlas). Allah berfirman dalam surah Al Fajr : 28). Makananya : 28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. 

    Semoga kita semua bisa mempertahankan kualitas ibadah kita, hingga akhir hayat nanti. Amin.


     

    iklan bawah 630x30

    Copyright © 2014. Pustaka Islam - All Rights Reserved | Template By Maskolis and Panjz Online | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger