Headlines News:

    Problematika Umat

    Drs Abdurrahman Aziz, MSi

    Sepuluh tahun terakhir ini, banyak kita jumpai, kita rasakan, kita saksikan, problematika umat yang sangat luas dan menyeluruh. Barangkali perlu saya sampaikan bukti-bukti yang bisa kita saksikan mulai pagi hingga malam. Misalnya, kasus pemerkosaan, perselingkuhan, korupsi yang merajalela, tawuran antar pelajar, antar warga, antar peserta pemilukada, preman, ada HIV AIDS, dan masih banyak lagi. Kalau kita perhatikan satu persatu, rasanya sangat ngeri. Sudah begitu parahkan moral bangsa kita ini? 

    Begitu parahnya, hingga ada orang yang menyatakan, bahwa kerusakan moral yang meluas seperti ini, adalah merupakan tanda-tanda akhir zaman, sehingga hendaknya kita pasrah saja, karena memang sudah dikehendaki begini. Tetapi, ada juga yang menyatakan bukan hanya sekedar tanda-tanda akhir, tetapi kejadian-demi kejadian seperti itu memang karena ulah manusia sendiri yang tidak mampu mengendalikan nafsu. 

    Kalau kejadian-kejadian itu kita sandarkan sikap kita untuk menerima begitu saja karena sudah merupakan tanda-tanda hari akhir, maka kita tidak akan ada perjuangan, tidak ada usaha untuk melenyapkannya, paling tidak mengurangi dekadensi moral yang telah merajalela ini. Untuk itu, kita sebagai seorang muslim, diajarkan untuk selalu berusaha untuk menghilangkan kemungkaran di atas bumi ini semampunya. (QS Ali Imron : 104). 

    Amar ma;ruf nahi mungkar ini memang berat di tengah-tengah masyarakat yang majemuk ini, namun Allah menjanjikan kepada yang istiqamah menegakkannya meraka akan dijamin menjadi orang yang beruntung. 

    Oleh karena itu, para ulama bersama dengan ormas-ormas Islam, selalu berusaha untuk menganggulangi berbagai macam kemrosotan moral ini. Kalau kita teliti dengan seksama, kemrosotan moral ini tidak berdiri sendiri, terapi merupakan pengaruh globalisasi. Sehingga, kebiasaan yang tidak baik yang dipraktekkan di luar negeri yang tidak sesuai dengan ajaran Islam,tidak sesuai dengan moral dan budaya Indonesia, masuk dengan gampang ke negeri kita ini. Maka, para ulama bersama dengan ormas Islam lainnya berusaha untuk mencegah semaksimal mungkin bangsa kita teracuni oleh moral yang buruk ini. 

    Barangkali kita masih ingat, pada tahun 2010, Indonesia akan menjadi tempat untuk diadakannya konferensi Lesbian dan Homoseksual yang ke 4. Konferensi pertama diadakan di India pada tahung 2002, kedua diadakan di Philipina, pada tahun 2005, ketiga di Thailand pada tahun 2008, dan pada tahun 2010 rencananya akan diadakan di Indonesia. Dia memilih tempat yang dianggap paling banyak gay dan lesbinya, walaupun masyarakatnya 96,7% muslim. Kemudian para ulama beserta ormas Islam bergerak untuk menuntut kepada pemerintah supaya rencana ini digagalkan. Alhamdulillah acara ini bisa digagalkan. 

    Pada tahun 2012, Indonesia dihebohkan lagi dengan kedatangan Lady Gaga. Dia adalah seorang penyanyi yang terkenal seronok, erotic, buka-bukaan aurat dan lirik lagunya dinilai banyak yang menghina agama, serta menurunkan martabat kemanusiaan. Rencana konser ini akan diadakan di Jakarta. Penolakan atas digelarnya konser ini pun terus bergulir, padahal tiket sudah terjual habis. Dan konserpun gagal digelar. 

    Kemudian 15 bulan setelah itu. Yakni tahun 2013 tahun ini, Indonesia dihebohkan lagi dengan digelarnya miss world 2013. Majelis Ulama’ bersama dengan berbagai ormas Islam, sudah banyak melakukan aksi untuk melakukan penolakan terhadap digelarnya Miss World ini, karena merusak moral, dan menjatuhkan martabat bangsa Indonesia, serta bertentangan dengan undang-undang pornografi dan pornoaksi. Sebelum mereka kontes, sudah tersebar gambar-gambar porno melalui situs internet. Itulah, kemudian kita menolaknya, tetapi upaya ini gagal, karena kontes tetap digelar. 

    Tokoh NU, KH Hasyim Muzadi, pada saat akan digelarnya konser Lady Gaga, menyatakan bahwa, Lady Gaga tidak seharusnya konser di Indonesia, karena akan merusak norma-norma bangsa, kalau ada yang mendukung, dengan alasan itu akan melanggar HAM, tidaklah tepat, karena HAM tidak boleh dijadikan monster untuk merusak budaya dan nilai-nilai moral bangsa, untuk itu jangan diteruskan kehebohan-kehebohan seperti ini. Namun, rupanya pesan moral ini tidak didengar, buktinya Mss World tetap saja berlangsung. Tetapi, kita tetap masih berharap kepada pemerintah untuk tetap memperhatikan kemulyaan moral bangsa ini. 

    Kita sebagai umat Islam, mempunyai kewajiban untuk terus menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat sebagai bentuk ketaatan kita kepada Allah SWT, sebagaimana yang tertuang dalam surah Ali Imron ayat 104. Sebagai bentuk upaya membentengi keluarga dan masyarakat kita dari pengaruh akhlak yang buruk, MUI dalam Raker Wilayah IV ( Jawa Timur, Bali, MTB, dan NTT) mengkampanyekan “Maghrib Mengaji” di seluruh wilayah ini. Artinya, setiap waktu maghrib hingga ‘isya’ harus memperhatikan diri sendiri dan keluarganya. Tidak menyalakan TV, tidak keluar rumah, tetapi mengaji, belajar atau berkumpul dan berdiskusi dengan keluarganya. Semoga dengan upaya-upaya ini keluarga kita terbentengi aqidahnya, dan terbentuklah akhlaqul karimah. 


    Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini

    Prof DR H Akhwan Muharrom, MA


    Imam Ghozali, menjelaskan bahwa syukur itu mencakup 3 aspek, pertama,lisan (pengakuan dalam lisan). Mengucapkan Alhamdulillah, setiap mendapatkan nikmat. Kedua, janan (Ikhlas dalam hati). Dalam mengucapkan syukur Alhamdulillah. Ketiga, Jawarikh (syukur dalam bentuk perbuatan). Misalnya, ketika kita diberi nikmat kesehatan, kemudian digunakan untuk beribadah, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah. 

    Hari ini, salah satu perhatian kita tertuju kepada kesiapan dan persiapan saudara-saudara kita yang akan menunaikan ibadah haji. Sesyogyanya sebagai sesama muslim kita harus mengapresiasi atas keberangkatan mereka. Setidaknya mendoakan mereka supaya berangkat dengan selamat dan pulang membawa predikat haji mabrur. Kita berkepentingan dengan kemabruran haji mereka. Karena haji mabrur adalah asset umat, untuk membangun bangsa dan masyarakat. sebab tidak mungkin haji mabrur, berlaku tindakan KKN, tidak mungkin haji mabrur ngemplang pajak, haji mabrur tidak akan tidur saat rapat di DPR, atau pura-pura tidur saat ada kerja bhakti di kampungnya. 

    Rasulullah SAW pernah bersabda dalam khutbah Wukuf di Arafah, pada saat haji wada’. Yang sebagian adalah sebagai berikut : 

    Yaa ayyuhan naas inna robbakum waahid, wa inna aabaaukum waahid kullukum min aadam, wa aadamu min turaab, inna akromakum ‘indallaahi atqaakum laa fadla li’arobiyyin wa laa ‘ajamiyin wa laa ‘ajamiyin ‘alaa ‘arabiyin illaa bitaqwa.(Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Tuhanmu itu adalah Esa, dan sesungguhnya, bapakmu adalah satu, kamu semua dari Adam, dan Adam berasal dari tanah, sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di hadapan Allah adalah yang paling taqwa. Tidak sedikit pun ada kelebihan bangsa Arab dari yang bukan Arab, kecuali dengan takwa). 

    Nilai esensial, dari khutbah Rasulullah SAW ini adalah, pertama, pengakuan ketahudan. Kedua, penataan Rasulullah SAW terhadap umat manusia. Bahwa manusia mempunyai kapasitas egaliter (kesamaan) dan persaudaraan. 

    Dalam perspektif sejarah, ketika beliau mengawali dakwahnya, salah satu tugas berat yang harus dipikul Rasulullah SAW adalah pengakuan persamaan antara as siyadah wal ‘abid (tuan dan hamba). Orang Arab terbiasa dengan aristokrasi. Bangsawan dengan berbagai beberapa budak yang mengelilinginya. Budak bagi bangsa Arab adalah harta kekayaan, dia tidak memiliki hak sedikitpun, bahkan terhadap dirinya sendiri. Sementara tuannya, memiliki hak sepenuhnya atas budaknya. Jadi, amat berat Rasulullah SAW menyampaikan ajaran persamaan hak tersebut. Penentangan yang luar biasa berasal dari aristokrasi Makkah pada saat itu, karena menganggap ajaran persamaan hak ini merupakan ajaran yang aneh dan tidak lazim. Karena tuan adalah pemilik, sementara budak adalah yang dimiliki, sehingga tidak akan mungkin memiliki kesamaan hak. Namun, dengan kegigihan Rasulullah SAW bisa menyampaikan ajaran ini dengan sukses. 

    Dewasa ini, zaman yang berada di era modern, era yang serba ilmu pengetahuan, di mana ilmu pengetahuan menjadi komandan bagi kehidupan kita, seolah-olah tidak ada sekat, maka, penerapan nilai ajaran penyamaan hak dan persaudaraan ini harus lebih mengarah dengan cara ilmu pengetahuan. 

    Kita baru saja membuka “kunci rumah”, namun belum terbuka lebar. Sekarang “pintu” itu sudah agak terbuka, di mana pergaulan antar dunia, sudah sedemikian melekat, dalam kehidupan kita sehari-hari. Apa yang terjadi di benua lain, bisa terjadi di benua kita. Atau bahkan terjadi di rumak kita pada hari ini juga. Era yang demikian ini, membutuhkan perhatian ekstra. Bukan hanya membawa dampak perkembangan negative ekonomi, sosial, politik, tetapi, kenyataan ini akan mengancam kehidupan keberagamaan kita. Nilai-nilai persaudaraan sesama muslim mulai terkoyak. Kita melihat kondisi saudara kita yang berada di Yaman, di Siria, di Palestina, di Mesir dlsb. 

    Kita sebagai hamba Allah, seharusnya bangga, karena Rasulullah SAW sendiri bangga dengan menyandang ‘abdullah (hamba Allah). Tetapi, apakah orientasi sebagai hamba Allah sudah konsisten, bahwa hanya kepada Allah, kita berorientasi tidak kepada yang selainNya. Seorang hamba Allah, akan lebih mudah menerima peringatan, jika peringatan itu datangnya dari sesama saudara kita. Maka, di sinilah pentingnya persaudaraan itu. 

    Di era yang sekarang ini, di mana kita diharuskan menerapkan nilai-nilai kesamaan dan persaudaraan tidak lagi menggunakan cara-cara doktriner. Tetapi, karena eranya sudah era ilmu pengetahuan, maka seharusnya dengan cara mengaplikasikan ilmu pengetahuan. Semoga kita bisa menerapkan ajaran Rasulullah SAW sebagaimana dijelaskan dalam khutbah haji wada’ itu, sehingga persaudaraan dan persamaan hak bisa kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari.


    Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur

    Oleh : DR. H. Zainuddin MZ, MA


    Nikmatnya sesuai dengan bimbingan Rasulullah SAW, pada setiap kehidupan kita ini, selalu mengingatkan akan alam kubur. Beliau dengan tegas menjelaskan : Ingat-ingatlah adanya pamungkas adanya kenikmatan hidup ini, yakni datangnya kematian. Andaikan yang seperti ini selalu kita ingat, apa artinya keilmuwan kita ini kalau tidak kita amalkan, toh pada akhirnya ilmu ini tidak akan kita bawa ke alam kubur. Kalau kita ingat kematian seperti ini, apa artinya kekayaan yang selama ini kita tumpuk selama hidup di dunia. Toh pada akhirnya semua akan kita tingalkan semua. Kita hidup di alam barzah. Maka kalau kita sudah meninggal dunia yang akan menyertai kita ke alam kubur ada tiga hal. Pertama, harta kekayaan kita. Kedua famili, kolega, saudara dan keluarga. Dan yang ketiga, amal perbuatan kita. Begitu dimakamkan, pertama dan kedua akan meninggalkan kita di alam kubur, untuk kembali ke rumah masing-masing. Tinggal amal perbuatan kitalah yang mendampingi kita di alam barzah. (QSYaasiin : 65). 

    Terhadap amalan yang kita kerjakan selama hidup di dunia ini. Pada akhirnya, kita didatangi dua malaikat, yang keduanya akan bertanya kepada kita, kenal apa tidak Muhammad yang menjadi utusan Allah? Dan Alhamdulillah, karena amalan kita di dunia yang sholeh, memeluk agama yang diridhoi oleh Allah, amalan kira akan menjawab : ‘’Kenal, beliau adalah Nabiyulloh, beliau adalah Rasulullah, dan aku mengikuti jejaknya”. Dengan jawaban seperti itulah, Rasulullah SAW menceritakan kepada kita : Fayu’rodhu ‘alaihil jannah (ditunjukkan kepadanya surga). Ketika kita ditunjukkan surga yang dinanti-nantikan itu, merupakan bagian kecil dari kenikmatan yang ada di alam kubur. Kondisi seperti itu akan berbeda dengan orang-orang munafiq, orang-orang musyrik, orang-orang kafir. Amalannya akan ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir : Ansa kenal apa tidak dengan Muhammad?. Justeru jawabannya tidak jelas : Aku pernah dengar, katanya....... Maka, setelah jawabannya seperti itu, fayu’rodhu ‘anin naar (maka ditunjukkan tentang neraka). Alangkah sedihnya kalau kita ditunjukkan neraka. Dan itu bagian kecil dari siksa di alam Barzah (kubur). Di dalam Al Qur’an juga dijelaskan tentang Fir’aun dan bala tentaranya, mereka ditunjukkan nerakanya pada setiap pagi dan petang. Ditunjukkan neraka, tentu ini bagian dari siksa. Dan siksa yang dimaksud di sini tidak mungkin berada di dunia, atau di akhirat. Karena di dunia, hanya karena mu’jizatlah bisa diperlihatkan neraka, dan tidak mungkin di akhirat, karena di akhirat adalah tempat dimasukkannya neraka atau surga. Nah, karena bukan di dunia dan bukan di akhirat, maka yang tentu siksa yang dimaksud di sini adalah di alam Barzah (kubur). Dan itu bagian kecil dari siksa, kalau kita berperilaku seperti Fir’aun. 

    Di dalam Al-Qur’an juga kita temukan, orang-orang munafiq, mereka merasakan sedih ketika di alam Barzah, dia ingin dikembalikan barang sesaat, untuk bisa beramal sholeh, tetapi firman Allah ada Barzah (pembatas). (lihat QS Asy Syu’ara : 102). Dengan demikian, ini bukan siksa dunia bukan siksa akhirat. Begitu gamlangnya Allah menjelaskan kepada kita agar kita berhati-hati dalam beramal di alam dunia ini,, belum lagi tuntunan Rasulullah SAW kalau kita hitung ada 155 hadis yang menjelaskan bagaimana nikmatnya seorang mukmin di alam Barzah, dan alangkah tersiksanya orang-orang kafir ketika di alam Barzah. Namun tidak banyak orang yang mengerti, bahkan tidak banyak orang yang mau mengetahui bagaimana detailnya siksa kubur dan nikmat kubur, sesuai dengan bimbingan Rasululah SAW. Karena kadang-kadang kita menjelaskan tentang masalah ghaib tidak menggunakan Wahyu. Menjelaskan tentang masalah ghaib dengan kemampuan nalar, berkeyakinan menurut nalar, padahal kemampuan nalar kita terbatas terutama tentang masalah ghoib. Ketika hidup kita adalah untuk alam pengabdian, maka ketika di alam kubur kita istirahat total. Itulah menurut nalar kita, tetapi menurut wahyu ada yang namanya nikmat kubur, ada siksa kubur, agar kita berhati-hati ketika kita hidup di dunia ini, karena akan dipertanyakan oleh Allah SWT. 

    Glucogen WebsiteKetika sahabat diajak ziarah ke pemakaman Badar di sana tiba-tiba ada mu’jizat Allah SWT. Rasulullah SAW dialog dengan ahli kubur. Rasulullah SAW bertanya kepada mereka : „Apakah kalian mendapat siksa Allah dengan haq?” Mereka menjawab pertanyaan Rasulullah SAW :’’Benar, kami sudah mendapat siksaan dengan haq”. Kalau begitu ini bukan hanya merupakan sebuah keyakinan, tetapi meningkat menjadi haqul yaqin, yang sudah tidak ada keraguan bagi kita semua, bahwa siksa kubur adalah benar adanya. Oleh sebab itulah, setiap mengakhiri shalat kita dimohon untuk berdoa memohon perlindungan Allah dari empat macam, yang dibimbing langsung oleh Rasulullah SAW : „Aku berlindung kepadaMu ya Allah dari siksa api neraka, dan aku berlindung kepadaMu dari adzab kubur, dan keburukan fitnah hidup dan mati dan dari fitnahnya Dajjal.


    Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an

    KH Agus Ali Masyhuri 



    Allah SWT berfirman dalam surah Al Qalam : 4 yang maknanya : Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Pujian ini tertanam dalam inti semesta. Tidak ada satu pun pena atau gambaran (diskripsi) yang sanggup menggambarkan kemuliaan pujian dari kalimat ini yang berasal dari pemilik alam semesta, Allah. Akhlak mulia di dalam ayat ini, sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam Ath Thabari, pujian bermakna tata krama yang tinggi ; yaitu tata krama Al-Qur’an yang telah Allah tanamkan di dalam jiwa Rasulullah SAW. Tata krama ini tercermin melalui Islam dan ajarannya. Jiwa Rasulullah SAW merangkum berbagai akhlak mulia, seperti sifat malu, mulia, berani, menepati janji, cerdas, ramah, sabar, memuliakan tamu/anak yatim, berperangai baik, jujur, pandai menjaga diri, senang menyucikan diri, berjiwa bersih, dsb. 

    Tidak ada bahasa, tidak ada gubahan sastra, tidak ada bentuk syair dan susunan kata yang bisa dibuat menggambarkan tentang keagungan dan kebesaran Rasulullah SAW secara pas dan klop, karena mulianya Rasulullah SAW. Tegasnya, bahwa Rasulullah SAW memadukan takwa kepada Allah dan sifat-sifat terpuji. Takwa kepada Allah SWT, dapat memperbaiki hubungan antara seorang hamba dan Allah, sedangkan akhlak mulia dapat memperbaiki hubungan dengan sesama makhluk. Jadi takwa kepada Allah SWT akan melahirkan cinta seseorang kepada-Nya, dan akhlak mulia dapat menarik cinta menusia kepadanya. Hisyam bin ‘Amr pernah bertanya kepada Aisyah r.a. tentang akhlak Rasulullah SAW, Aisyah r.a. menjawab : “Akhlak Nabi SAW adalah Al –Qur’an”. (HR Muslim) 

    Sungguh, jawaban Aisyah ini cukup singkat, namun cerdas penuh makna. Ia menyifati Rasulullah SAW dengan satu sifat yang dapat mewakili seluruh sifat yang ada. Memang tepat lagi benar, bahwa akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah dalam surah Al Israa’ : 9. Yang maknanya : Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, 

    Anas r.a, berkata : “Sungguh, Rasulullah benar-benar manusia dengan akhlak paling mulia” (Bukhori dan Muslim). 

    Anas r.a, juga berkata dalam riwayat lain : “Aku tidak pernah menyentuh kain sutra yang lebih halus dan lembut dari pada telapak tangan Rasulullah SAW. Aku tidak pernah wewangian yang lebih harum dari pada badan Rasulullah SAW. Selama sepuluh tahun aku berkhidmah kepada beliau, aku tidak pernah mendengar beliau mengucapkan kata, “ah” sebagaimana beliau tidak pernah mempertanyakan apa yang aku kerjakan, kenapa kamu mengerjakan ini? atau Bukankah seharusnya kamu menerjakan seperti ini? (HR Bukhori dan Muslim). 


    Glucogen Website

    Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya


    Menuntut Ilmu Sejarah pernah mencatat, bahwa imperium Utsmaniyah pernah memiliki peranan yang menentukan dalam percaturan dunia. Bahkan dakwah Islamiyah pernah sampai ke Wina. Sehingga masyarakat barat menjadi tidak tenang. Itu semua bisa terjadi karena umat Islam di waktu itu membekali diri dengan ilmu pengetahuan, di samping memperkokoh keimanan. Bahkan sejarah pernah pula mencatat, bahwa kemajuan peradaban Islam di Eropa, khususnya di Spanyol, tidak terlepas dari ajaran Islam, yang menjunjung tinggi dan mengagungkan ilmu pengetahuan. Kemajuan barat, tidak bisa dipisahkan dari kontribusi Islam. Sebagaimana diungkapkan oleh para ilmuwan mereka dengan tegas mengatakan, bahwa bangsa eropa sangat beruntung dan berhutang budi dengan kedatangan Islam. Banyak ilmu pengetahuan yang ditemukan dan kemudian diadopsinya. Kesan juga diungkapkan oleh ilmuwan barat lainnya, bahwa ilmu pengetahuan yang dibawa Islam, menjadi inspirasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern barat. Saat itulah izzul Islam wal muslimin (kemulyaan Islam dan kaum muslimin) dirasakan oleh dunia. Ini merupakan rahmat besar. Hidup dengan ilmu pengetahuan, disegani dan dihormati oleh bangsa lain. Ini sebagai bukti bahwa Islam adalah agama yang merupakan aturan hidup yang sempurna yang datang dari Allah SWT. 

    Islam sebagai agama rahmatan lil ‘aalamiin. Telah mensyariatkan dan mewajibkannya kepada umatnya untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya melalui wahyuNya yang pertama kali turun yakni iqra’ (bacalah). Artinya ini perintah untuk belajar dan menuntut ilmu. (QS At Taubah : 122, Az Zumar : 9 ). 

    Kata “ilmu” di dalam Al Qur’an dengan berbagai bentuknya terulang sebanyak 854 kali. Artinya agama Islam memberi perhatian besar kepada manusia untuk membekali diri dengan ilmu, dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai hamba Allah untuk beribadah kepadaNya dan sebagai khalifatullah di muka bumi ini. Oleh karena itu, Rasulullah SAW mewajibkan kepada semua umatnya untuk menuntut ilmu. Sebagaimana sabdanya : thalabul ilmi fariidhotun ‘alaa kulli muslimiin wa muslimatun (mencari ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki maupun perempuan). Beliau juga mempunyai kebijakan untuk mendorong umatnya terus belajar dan belajar. Misalnya ketika kaum muslim berhasil menawan sejumlah pasukan kaum musyrikin dalam perang Badar. Dengan cara menawarkan mereka, jika mau bebas mereka harus membayar tebusan, atau mengajar baca tulis kepada warga Madinah. Kebijakan ini sungguh cukup strategis, karena mempercepat terjadinya transformasi ilmu pengetahuan di kalangan kaum muslimin. 

    Kita sebagai orang tua, harus menjadi teladan di tengah keluarga kita masing-masing. Sebagai orang tua juga mendorong penuh agar keluarga kita untuk menuntut ilmu, jangan sampai kita telantarkan mereka. Jangan membiarkan mereka menjadi generasi yang lemah. (An Nisa’ : 9, Maryam : 59). 

    Di akhirat nanti jangan sampai anak isteri kita menggugat di pengadilan Ilahi, hanya karena kita tidak pernah menjadi teladan yang baik, di rumah tangga. Hanya karena kita tidak pernah memberi dorongan kepada keluarga untuk hadir di majlis ilmu untuk menuntut ilmu. Allah SWT berfirman dalam surah At Tahrim : 6 yang maknanya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. 

    Menuntut ilmu itu adalah bagian dari ibadah. Menuntut ilmu itu adalah suatu kemulyaan. Allah SWT akan mengangkat derajat dan kedudukan orang yang menuntut ilmu. Dan Allah akan mudahkan jalan menuju surga orang yang menuntut ilmu. Allah berfirman dalam surah Al Mujadilah : 11 yang maknanya : Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. 

    Rasululah SAW bersabda : man salaka thoriqon yaltamisu fiihi ilman, sahalallahu lahu bihi thoriiqon ilal jannah (barang siapa berjalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga). 

    Menuntut ilmu disamping ibadah, juga merupakan jihad. Yakni jihad melawan kebodohan. Jihad melawan keterbelakangan. Maka di sinilah diperlukan kesungguhan yang luar biasa. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW : man khoroja fii tholabil ilmi fahuwa fii sabiilillah (barang siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka dia pada jalan Allah). Ilmu adalah cahaya yang menerangi dan menerangi hidup ini. Ilmu adalah petunjuk, sedang kebodohan adalah kegelapan dan kesesatan. (QS Al Maidah : 15-16), yang maknanya : Hai ahli Kitab, Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. 

    16. dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Ilmu adalah alat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bagaimana kita akan mengenal Allah kalau kita tidak pernah membekali diri dengan ilmu. Ilmu sekaligus juga sebagai petunjuk keimanan dan beramal sholih. Dengan menuntut ilmu berarti kita telah meneladani sifat Allah yang Mulia yakni Al Aliim. Bukankah kita diperintakan untuk berakhlak dengan akhlak Allah. Allah telah memberi anugerah kepada penuntut ilmu dengan rahmah dan maghfirohNya. Sehingga energi yang dimiliki oleh orang aliim, diharapkan mampu meningkatkan kualitas manusia dan menjawab berbagai persoalan manusia. Kesesuaian Antara Ilmu dan Amal 

    Selayaknya seorang penuntut ilmu antusias untuk mengamalkan ilmu yang telah didapatkannya, sebagaimana antusias dia dalam mencari tambahan ilmu baru. Karena tujuan pokok menuntut ilmu adalah untuk diamalkan. Mengamalkan ilmu juga menjadi pertanda atas nikmat Allah berupa ilmu, yang dengannya Allah akan menambahkan ilmu sebagai ziyadah (tambahan) nikmat atasnya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu,” (QS. Ibrahim: 7) 

    Maka barangsiapa yang mensyukuri nikmat ilmu dengan amal, niscaya Allah akan menambah nikmat berupa ilmu. Sebagaimana yang dikatakan oleh Abdul Wahid bin Zaid, “Barangsiapa yang mengamalkan ilmunya, maka Allah akan membuka baginya ilmu yang belum diketahui sebelumnya.” 

    Orang yang hanya sibuk mencari ilmu namun tidak berusaha mengamalkannya, seperti orang yang mencari uang, namun ia tidak mampu membelanjakannya, lalu apa gunanya dia mencari uang? 

    Abdullah bin Mubarak berkata, “Orang yang berakal adalah, seseorang yang tidak melulu berpikir untuk menambah ilmu, sebelum dia berusaha mengamalkan apa yang telah dia miliki, Maka dia menuntut ilmu untuk diamalkan, karena ilmu dicari untuk diamalkan. 

    Tentu saja penekanan beliau adalah motivasi untuk mengamalkan ilmu yang telah dimiliki, bukan mengerem atau menjatuhkan semangat untuk menambah ilmu. Bagaimanapun, kita tetap harus senantiasa menuntut ilmu dan terus berusaha mengamalkan ilmu. Tidak dibenarkan juga seseorang yang tidak sudi menuntut ilmu dengan alasan takut akan tuntutannya. Karena berarti dari awal dia sudah tidak memiliki niat untuk mengamalkan ilmu. Akhirnya ia menjadi orang yang bodoh dari ilmu dan kosong dari amal. Tepat sekali jawaban sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ketika seseorang kepada beliau, “Sebenarnya aku ingin mencari ilmu, tapi aku takut menyia-nyiakannya (yakni takut tuntutan mengamalkannya).” Maka beliau berkata, “Cukuplah kamu dikatakan menyia- nyiakan ilmu jika kamu tidak mau belajar. 

    Para ulama memandang, seseorang tidak dikatakan alim (orang yang berilmu) kecuali setelah mengamalkan ilmu yang dimilikinya “Innamal ‘aalim, man ‘amila bimaa ‘alim.”(sungguh orang yang yang alim itu adalah orang yang mengamalkan ilmunya) Imam asy-Sya’bi juga berpendapat bahwa orang yang faqih adalah orang yang benar-benar menjauhi segala yang diharamkan Allah SWT dan alim adalah orang yang takut kepada Allah SWT. Jika kita menengok para ulama salaf dan para Imam yang bertabur ilmu, akan kita dapatkan bahwa mereka bukan sekedar ahli ilmu, tapi juga ahli ibadah. Bukan sekedar ibadah yang wajib dan yang tampak, tapi juga ibadah yang sunnah dan yang tersembunyi. 

    Seperti Imam Abu Hanifah rahimahullah. Beliau biasa menghidupkan separuh malamnya. Hingga pada suatu hari beliau melewati suatu kaum, dan beliau mendengar mereka berbisik, “Orang ini (yakni Abu Hanifah), menghidupkan malam semuanya untuk ibadah.” Maka Abu Hanifah berkata, “Sungguh! Aku malu kepada Allah, jika aku disebut-sebut dengan sesuatu yang tidak aku lakukan.” Lalu setelah itu beliau selalu menghidupkan malamnya semua. 

    Imam asy-Syafi’I berkata : “Sudah sepantasnya seorang penuntut ilmu itu memiliki suatu rahasia antara dia dengan Allah, yakni berupa amal shalih, tidak hanya mengandalkan banyaknya ilmu namun sedikit harapannya untuk akhirat.” 


    Rasulullah SAW dan Uang Delapan Dirham

    Glucogen Website

    Suatu hari Rasulullah SAW bermaksud belanja. Dengan bekal uang 8 dirham, beliau hendak membeli pakaian dan peralatan rumah tangga. Belum juga sampai di pasar, beliau mendapati seorang wanita yang sedang menangis. Beliau sempatkan bertanya kenapa menangis. Apakah sedang ditimpa musibah? Perempuan itu menyampaikan bahwa ia adalah seorang budak yang sedang kehilangan uang sebesar 2 dirham. Ia menangis sangat takut didera oleh majikannya. Rasulullah kemudian mengeluarkan uang dua dirham dari sakunya untuk menghibur perempuan malang tersebut. Kini tinggal 6 dirham. Beliau bergegas membeli gamis, pakaian kesukaanya. Akan tetapi baru beberapa langkah dari pasar, seorang tua lagi miskin setengah teriak berkata, “Barang siapa yang memberiku pakaian, Allah akan mendandaninya kelak.” Rasulullah memeriksa laki-laki tersebut. Pakaiannya lusuh, tak pantas lagi dipakai. Gamis yang baru dibelinya dilepas dan diberikan dengan sukarela kepadanya. Beliau tak jadi memakai baju baru.

    Dengan langkah ringan beliau hendak segera pulang. Akan tetapi lagi-lagi beliau harus bersabar. Kali ini beliau menjumpai perempuan yang diberi dua dirham tersebut mengadukan persoalan, bahwa ia takut pulang. Ia khawatir akan dihukum oleh majikannya karena terlambat. Sebagai budak saat itu nilainya tidak lebih dari seekor binatang. Hukuman fisik sudah sangat lazim diterima. Rasulullah diutus di dunia untuk mengadakan pembelaan terhadap rakyat jelata. Dengan senang hati beliau antarkan perempuan tersebut ke rumah majikannya. Sesampainya di rumah, beliau ucapkan salam. Sekali, dua kali belum ada jawaban. Baru salam yang ketiga dijawab oleh penghuni rumah. Nampaknya semua penghuni rumah tersebut adalah perempuan. Ketika ditanya kenapa salam beliau tidak dijawab, pemilik rumah itu mengatakan sengaja melakukannya dengan maksud didoakan Rasulullah dengan salam tiga kali. Selanjutnya Rasulullah menyampaikan maksud kedatangannya. Beliau mengantar perempuan yang menjadi budak tersebut karena takut mendapat hukuman. Rasulullah kemudian menyampaikan, “Jika perempuan budak ini salah dan perlu dihukum, biarlah aku yang menerima hukumannya.” Mendengar ucapan Rasulullah ini penghuni rumah terkesima. Mereka merasa mendapat pelajaran yang sangat berharga dari baginda Rasulullah. Karena secara refleks mereka menyampaikan, “Budak belian ini merdeka karena Allah.” Betapa bahagianya Rasulullah mendengar pernyataan itu. Beliau sangat bersyukur dengan uang 8 dirham mendapat keuntungan ribuan dirham, yakni harga budak itu sendiri. Beliau berkata, “Tiadalah aku melihat delapan dirham demikian besar berkahnya dari pada delapan dirham yang ini. Allah telah memberi ketenteraman bagi orang yang ketakutan, memberi pakaian orang yang telanjang, dan membebaskan seorang budak belian.”
    Sumber:
    Kumpulan Kisah-kisah Teladan


    Kisah Perjalanan Nabi Khidir Dan Nabi Musa

    Nabi Khidir ditugaskan membimbing Nabi Musa yang hidup dizamannya, sebagaimana kita sekarang wajib menyampaikan dakwah kepada orang lain disekeliling kita. Beliau tidak dikurniakan Mukjizat seperti Nabi Musa sebaliknya diajarkan ilmu secara Laduni. 

    Hal ini turut dimiliki Para Wali Allah dan Alim Ulama yang dianugerahkan Allah Ilmu Makrifat serta Kasyaf. Golongan ini selalu berhati-hati untuk tidak membusungkan dada dengan Ilmu yang mereka miliki. Sifat Warak dan merendah diri pada beliau inilah yang diamalkan oleh para Wali Allah seperti Syekh Abdul Qadir Jailani yang namanya senantiasa disebut-sebut sampai hari ini walaupun telah wafat ribuan tahun yang lampau.
    Salah satu kisah Al-Quran yang sangat mengagumkan dan dipenuhi dengan misteri, kisah seorang hamba yang Allah SWT memberinya rahmat dari sisi-Nya dan mengajarinya ilmu. Yang mana kisah tersebut terdapat dalam surah al-Kahfi di mana ayat-ayatnya dimulai dengan cerita Nabi Musa, yaitu:
    "Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan-jalan sampai bertahun-tahun." (QS. al-Kahfi: 60)
    Kalimat yang samar menunjukkan bahwa Musa telah bertekad untuk meneruskan perjalanan selama waktu yang cukup lama kecuali jika beliau mampu mencapai majma al-Bahrain (pertemuan dua buah lautan). Seandainya tempat itu harus disebutkan niscaya Allah SWT akan rnenyebutkannya.
    Namun Al-Quran al-Karim sengaja menyembunyikan tempat itu, sebagaimana Al-Quran tidak menyebutkan kapan itu terjadi. Begitu juga, Al-Quran tidak menyebutkan nama-nama orang-orang yang terdapat dalam kisah itu karena adanya hikmah yang tinggi yang kita tidak mengetahuinya.
    Kisah tersebut berhubungan dengan suatu ilmu yang tidak kita miliki, karena biasanya ilmu yang kita kuasai berkaitan dengan sebab-sebab tertentu. Dan tidak juga ia berkaitan dengan ilmu para nabi karena biasanya ilmu para nabi berdasarkan wahyu. Kita sekarang berhadapan dengan suatu ilmu dari suatu hakikat yang samar; ilmu yang berkaitan dengan takdir yang sangat tinggi; ilmu yang dipenuhi dengan rangkaian tabir yang tebal. Di samping itu, bahkan Al-Quran sengaja menyembunyikan pahlawan dari kisah ini.
    Allah SWT mengisyaratkan hal tersebut dalam firman-Nya:
    "Seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami."(QS. al-Kahfi: 65)
    Al-Quran al-Karim tidak menyebutkan siapa nama hamba yang dimaksud, yaitu seorang hamba yang dicari oleh Musa AS agar ia dapat belajar darinya. Nabi Musa adalah seorang yang diajak bebicara langsung oleh Allah SWT dan ia salah seorang ulul azmi dari para rasul.
    Beliau adalah pemilik mukjizat tongkat dan tangan yang bercahaya dan seorang Nabi yang Taurat diturunkan kepadanya tanpa melalui perantara. Namun dalam kisah ini, beliau menjadi seorang pencari ilmu yang sederhana yang harus belajar kepada gurunya dan menahan penderitaan di tengah-tengah belajarnya itu yang didalam hadis yang suci disebutkan bahwa ia adalah Khidir as.
    Musa berjalan bersama hamba yang menerima ilmunya dari Allah SWT tanpa sebab-sebab penerimaan ilmu yang biasa kita ketahui. Mula-mula Khidir menolak ditemani oleh Musa.
    Khidir memberitahu Musa bahwa ia tidak akan mampu bersabar bersamanya. Akhirnya, Khidir mau ditemani oleh Musa tapi dengan syarat, hendaklah ia tidak bertanya tentang apa yang dilakukan Khidir sehingga Khidir menceritakan kepadanya.
    Khidir merupakan simbol ketenangan dan diam; ia tidak berbicara dan gerak-geriknya menimbulkan kegelisahan dan kebingungan dalam diri Musa. Sebagian tindakan yang dilakukan oleh Khidir jelas-jelas dianggap sebagai kejahatan di mata Musa; sebagian tindakan Khidir yang lain dianggap Musa sebagai hal yang tidak memiliki arti apa pun; dan tindakan yang lain justru membuat Musa bingung dan membuatnya menentang.
    Meskipun Musa memiliki ilmu yang tinggi dan kedudukan yang luar biasa namun beliau mendapati dirinya dalam keadaan kebingungan melihat perilaku hamba yang mendapatkan karunia ilmunya dari sisi Allah SWT.
    Ilmu Musa yang berlandaskan syariat menjadi bingung ketika menghadapi ilmu hamba ini yang berlandaskan hakikat. Syariat merupakan bagian dari hakikat. Terkadang hakikat menjadi hal yang sangat samar sehingga para nabi pun sulit memahaminya. Kisah ini menunjukam bahwa adanya hamba-hamba Allah SWT yang bukan termasuk nabi dan syuhada namun para nabi dan para syuhada "cemburu" dengan ilmu mereka.
    Kisah ini di awali pada saat Nabi Musa as berbicara di tengah-tengah Bani Israil. Ia mengajak mereka untuk menyembah Allah SWT dan menceritakan kepada mereka tentang kebenaran. Setelah beliau menyampaikan pembicaraannya, salah seorang Bani Israil bertanya:"Apakah ada di muka bumi seseorang yang lebih alim darimu wahai Nabi Allah?" Dengan nada emosi, Musa menjawab: "Tidak ada." Allah SWT tidak setuju dengan jawaban Musa.
    Lalu Allah SWT mengutus Jibril untuk bertanya kepadanya: "Wahai Musa, tidakkah engkau mengetahui di mana Allah SWT meletakkan ilmu-Nya?"
    Musa mengetahui bahwa ia terburu-buru mengambil suatu keputusan.
    Jibril kembali berkata kepadanya: "Sesungguhnya Allah SWT mempunyai seorang hamba yang berada di majma al-Bahrain yang ia lebih alim daripada kamu."
    Musa bertanya bagaimana ia dapat menemui orang alim itu. Kemudian ia mendapatkan perintah untuk pergi dan membawa ikan di keranjang. Ketika ikan itu hidup dan melompat ke lautan maka di tempat itulah Musa akan menemui hamba yang alim. Akhirnya, Musa sampai di tempat di mana ikan itu melompat. Di sanalah mereka mendapatkan seorang lelaki yang dijelaskan oleh Al-Quran:
    "Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba -hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahrnat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. "
    Inilah aspek yang penting dalam kisah itu. Kisah itu terfokus pada sesuatu yang ada di dalam jiwa, bukan tertuju pada hal-hal yang bersifat fisik atau lahiriah. Allah SWT berfirman:
    "Maka tatkala mereka berjalan sampai ke pertemuan dua buah laut itu, maka mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita merasa letih karena perjalanan hita ini. Muridnya menjawab: Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali. Musa berkata: Itulah (tempat) yang kita cari; lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. "(QS. al-Kahfi: 61-65)
    Firman Allah SWT dalam surah al-Kahfi:
    "Musa berkata kepadanya: Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu ? Dia menjawab: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu? Musa berkata: Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun. Dia berkata: Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu." (QS. al-Kahfi: 66-70)
    Allah SWT berfirman:
    "Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir melobanginya.
    Musa berkata: Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya hamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.
    Dia (Khidir) berkata: Bukankah aku telah berkata: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.
    Musa berkata: Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.
    Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir membunuhnya.
    Musa berkata: Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih itu, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.
    Khidir berkata: Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan sabar bersamaku?
    Musa berkata: Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku.
    Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir menegakkan dinding itu.
    Musa berkata: Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.
    Khidir berkata: Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.
    Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.
    Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.
    Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam dari kasih sayangnya (kepada ibu dan bapaknya).
    Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya seseorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya." (QS. al-Kahfi: 71-82)
    Hamba saleh itu menyingkapkan dua hal pada Musa: ia memberitahunya bahwa ilmunya, yakni ilmu Musa sangat terbatas, kemudian ia memberitahunya bahwa banyak dari musibah yang terjadi di bumi justru di balik itu terdapat rahmat yang besar.
    Demikianlah bahwa nikmat terkadang membawa sesuatu bencana dan sebaliknya, suatu bencana terkadang membawa nikmat. Banyak hal yang lahirnya baik temyata justru di balik itu terdapat keburukan. Mula-mula Nabi Allah SWT Musa menentang dan mempersoalkan tindakan hamba Allah SWT tersebut, kemudian ia menjadi mengerti ketika hamba Allah SWT itu menyingkapkan kepadanya maksud dari tindakannya dan rahmat Allah SWT yang besar yang tersembunyi dari peristiwa-peristiwa yang terjadi.


     

    iklan bawah 630x30

    Copyright © 2014. Pustaka Islam - All Rights Reserved | Template By Maskolis and Panjz Online | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger